A.
Sejarah
singkat Psikologi
Psikologi
cabang dari Filsafat. Psiologi salah stu disilin ilmu pengetahuan yang relatif
muda. Studi ilmiah tentang tingkah laku makhluk hidup bermula pada akhir abad
18. Bermula dari Wilhem Wundt yang mendirikan laboratorium Psikologi yang
pertama pada tahun 1879 di Leipzig untuk meneliti peristiwa-peristiwa kejiwaan
secara experimmental. W. Wundt mengadakan percobaan-percobaan dalam usaha
menyelidiki jiwa lewat gejala-gejala jiwa, karena metode experimen tersebut, W.
Wund disebut sebaai tokoh psikologi experimental. W. Wund-lah yang dianggap
pelopor utama melepaskan Psiologi dari Filsafat. Sejak saat itu penelitian
percobaan di bidang psikologi berkembang pesat. Para peneliti memperluas dan
memperdalam penelitin mereka terhadap gambaran reaksi manusia dan pola tingkah
laku makhluk hidup lainnya.
Sebagai ilmu
pengetahuan yang berdiri sendiri psiologi memiliki persyaratan sebagai ilmu
pengetahuan yaitu :
a.
Objektif;
adanya objek dapat dipelajari diamati berupa tingkah laku individu dalam suatu
situasi.
b.
Metode;
dengan melakukan pengamatan tersebut, diperlukan metode, diantaranya metode
intropeksi, observasi experimen, tes,
case sudy, dan ain-lain.
c.
Sistematis;
jelas aspek-aspek pembicaraannya, tiap-tiap aspek idak bertentagan merupakan
satu kesatuan.
B.
Definisi
Psikologi
Menurut bahasa,
psykology terdiri psyche jia dan logos ilmu atau ilmu
pengetahuan, psikology diartikan ilmu jiwa atau ilmu pengetahuan tentang
jiwa. Dai kata tersebut timbul penafsiran berbeda tentang definisi Psikology.
Sebagian berpendapat bahwa psikologi ilmmu jiwa itu sendiri, tapi ilmu jiwa
belum tentu Psikologi.
C.
Gejal-Gejala
Jiwa
Gejala-gejala
jiwa adalah perbuatan dilakukan oleh manusia karena dorongan atau rangsangan
dari lingkungannya, seseorang melakukan aktifitas atau perilaku terseut
disengaja, belum melakukan aktifitas atau prilaku karena refleks seperti;
denyut nadi, kedipan mata, aktifitas orang gila. Menurut M. Dimant gejala jiwa
dapat dibedakan menjadi emat macam yaitu:
1.
Gejala
Pengenalan (kognitis)
a.
Pengamatan;
Proses mengenal segala sesutu (benda, orang, peritiwa dan sebagainnya) denagn
menggunakan panca indra.
b.
Tanggapan;
Tanggapan itu bisa berbentuk tanggapan visual, auditif, olvaktorik, gustatif
taktil, dan motorik.
c.
Ingatan;
Ingatan meliputi tiga unsur; Mencamkan, menyimpan, dan mereproduksi.
d.
Fantasi;
Sebagai kemamuan jiwa membayangkan, menciptakan sesuatu berdasrkan tanggapan
yang telah ada.
e.
Berpikir;
berpikir ssecara luas yaitu pergaulan dengan dunia abstrak. Secara sempit,
berpikir sebagai kesanggupan atau kemmpuan jiwa untuk enghubungkan bagian yang
sudah diketahui.
f.
Kecerdasan;
kemampuan melakuakn kegiatan complicated rumit, penuh kesukaran,
kerumitan, abstrak, kehematan, kesesuaian dengan tujuan, nilai sosial dan
keaslian.
2.
Gejala
Perasaan (Emosi)
Perasaan sebagai peristiwa kejiwaan yang dhianati oleh suka atau
tidak suka.
3.
Gejala
Kehendak (Konasi)
Tenaga batin
ada dalam diri manusia yang mendrongnya melakukan sesuatu atau serangkaian
perbuatan terarah kepada tujuan tertentu.
4.
Gejala
Campuran (kombinasi)
Gejala ini
disebut gejala campuran karena dari gejala ke-satu dan ketiga saling
berhubungan satuu sama lain tak terpisahkan. Gejala tersebut adalah; perhatian,
sugesti dan kelelahan
D.
Pembagian
Psikologi
Menurut dayono Psikologi dibagi menjdi dua golongan yaitu:
1.
Psikologi
metfisika, yang menyelidiki hakikat jiwa seperti dilakukan oleh Plato dan
Aristoteles/
2.
Psikologi
Empiri, yang menyelidiki gejala-gejalakejiwaan dan tingkah laku manusia dengan
mwnggunakan pengamatan (obserasi), percobaan atau eksperimen pengumpulan
berbagai mamcam data yang ada hubungannya dengan gejala-gejala kejiwaan
manusia.
E.
Definis
Pendidikan
Pendidikan
dalam bahassa inggris, Education (pedidikan) berasal dari kata educate
(mendidik) artinya memberi peningkatan (to elicit, to give rise to), dan
mengembngkan (to evlve, to develop). Pendidikan adlah aktifitas oleh
diri atau adanya keterliatan yang lain dalam melakukan perubahan.
F.
Definisi
Psikologi Pendidikan
Psikologi pendidikan
adalah pengetahuan kependidikan yang didasarkan atas dasar hasil temuan
riset psikologi. Kemudian hasil temuan riset tersebut kemudian dirumuskan
sedemikian rupa sehingga menjadi konsep-konsep, teori-teori, metode-metode,
serta strategi-strategi yang utuh. Selanjutnya knnsep, teori, strategi,
tersebut, kemudian disistimatiskan hingga menjadi repertoire of resources,
yakni rangkaian sumber yang berisi pendekatan yang dipilih dan digunakan untuk
praktek-praktek kependidikan khususnya dalam hal belajar mengajar.
Dengan demikian
dapat disimpulakan Pskologi Pendidikan
adalah cabang dari psikologi yang mengkaji dan meneliti secara siitematis
masalh-masalah pendidikan dalam situasi tertentu agar lebih baik.
G.
Metode
Atau Teknik Dalam Psikologi Pendidikan
1.
Angket;
yang dipergunakan untuk meneliti indicidu secara komperesif, sehingga diperoleh
hipotesa-hipotesa yang dapat dianalisa.
2.
Tes;
suatu percobaan yang dilakukan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang
harus dijawab, atau perintah-perinatah yang harus dikerjakan, untuk mendapatan
gambaran tentang kejiwaan seseorang atau sekelompok orang berdasarkan
kaidah-kaidah tertentu.
3.
Eksperimen-eksperimen;
dapat dilakukan didalam kelas atau kelompok-kelompok tertemtu untuk uji coba
tiori dan aplikasi tiori sehingga didapat pengetahuan baru bersipat aplikatif.
4.
Case
histori; penelitin ini dilkukan dalam cakupan sederhana atau lingkup kecil
bersipat individual.
5.
Introfeksi;
suatu metode digunakan oleh penelitin dengan melakukan tugas mengadakan
pengawasan terhadap proses-proses kejiwan yang terjadi dalam diri sendiri.
6.
Metode
klinik; dipergunakan untuk meneliti individu atau objek tertentu dalam ruang
lingkup tertentu serta jangka waktu yang tidak ditentukan.
7.
Metode
filsafat;
H.
Fungsi
Psikologi Pendidikan
Psikologi
berfungsi memudahkan penajaran dalam menjadikan manusia menjadi lebih baik
dengan cara tepat, cermat, cepat, orang-orng yang diajarinya sadar dan mampu
mendewasaakan dirinya.
I.
Ruang
lingup Psikologi Pendidikan
1.
Poko
bahasan mengenai “belajar”
2.
Poko
bahasan mengenai “proses belajar”
3.
Poko
bahasan mengenai “situasi belajar”
BAB II
Pengaruh Pertubuhan dan Perkembangan dalam Belajar
A.
Pengertian
Pertumbuhan dan Perkembangan
Pertumbuhan
ialah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses Pematangan
fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal pada anak yang sehat, dalam passage
(perbedaan waktu) tertentu. Perkembangan ialah Perubahan-perubahan psiko
fisik sabagai hassil dari proses pematangan fungsi-fungsi fsikis dan fisik pada
anak yang ditunjang oleh faktor lingkungn dan proses belajar dalam passage waktu
tertentu, menuju kedewasaan.
B.
Awal
Pertumbuhan Manusia
Awal mula
peristiwa pertumbuhan manusia terjadi dari satu sperma dan satu telur. Satu
sperma memasuki sebuah telur dan satu individu baru mulai membentuk diri,
kehidupan awal dari individu sangat di pengaruhi oleh kondisi ibu, yaitu wanita
yang mengandungnya. Sedangkan peranan ayah dalam menumbuhkan individu baru
hanyalah memberikan kemungkinan yang tepat agar individu terkonsep. Apapun yang
akan di turunkan oleh seorang ayah kepada anaknya adalah berupa sifat-sifat
yang terkandung di dalam satu sperma yang terbuahkan. Untuk mengetahui secara
pasti sipat apakah yang terkandung didalam sperma itu bukanlah hal yang mudah.
C.
Faktor
yang Mempengaruhi Pertumbuhan
1.
Faktor
warisan sejak lahir, bawaan (herediter)
2.
Faktor
lingkungan yang mempengaruhi baik yang menguntungkan atau merugikan
3.
Kematangan
fungsi-fungsi fisik dan fungsi fsikis
4.
Aktifitas
anak sebagai subjek yang berkemampuan menseleksi, menolak atau meyetujui,
memiliki emosi serta usaha membangun diri sndiri.
D.
Proses
Pertumbuhan Fisik yang Wajar
Prose
pertumbuhan manusi dimulai dalam kandungan ketika bertemunya dua sel “germ”,
E.
Ciri-ciri
Pertumbuhan
Perubahan
kuntitatif pada materi pribadi sebagai akibat dari adanya pengauh lingkungan
materi pribadi seerti pertumbuhan sel, kromosom butir darah, rambut lemak
tulang, adalah tidak dapat dikatakan berkembang melainkan bertumbuh/tumbuh.
F.
Perkembangan
Perkembangan merupakan
suatu perubahan yang bersipat kualitatif yang tidak ditekankan padda aspek
materi kuantitatif melainkan lebih bersipat perubahan pada segi fungsional.
G.
Kematangan
Kewajaran
melakukan aktifitas sesua dengan pertumbuhan dan perkembangan pisik dan psikis
individu.
BAB III
Pembelajaran dan Teri-Teori Belajar
A.
Fungsi
Teori dalam Pembelajaran
Teori
pembelajaran sebagai salah satu pengetahuan diperoleh dari sumber-sumber
pengetahuan. Pengetahuan itu diperoleh pertama dari sins, dengan mete
ilmiah; logiko hipotetiko verifikatif, kedua filsafat yaiu pemikiran
mendalam yang dapat dipahami secara logika nalar dan ketiga; agama
sebagai sumber keyakinan dengan metode riyadhoh.
B.
Belajar
Atau Pembelajaran
Moch. Surya
mendefinisikan belajar dalam psikologipndidikan ialah; “sebagai suatu proses
usaha yang dilakukan ndividu untuk memperoleh suatu peubahan, sebagai hasil pengalaman
individu itu sendiri dalam iteraks dengan lingkungannya.
C.
Proses
Belajar
Suatu proses
membuat suatu inforasi diperoleh melalui proses persepsual menjadi punya arti
dan punya maknabagi proes peilihan tindakan.proses belajar dapat membuat
seseorang merubah prilakunya.
D.
Teori-Teori
Belajar
1.
Teoi
belajar behafioristik
a.
Ivan
Pavlov (1849-1936)
b.
Hukum-hukum
Thorndike
c.
Jhon
B. Watson
d.
Guhtrie
2.
Teori
Belajar operant conding
a.
Skinnerian
conditioning
b.
Reinforteement
c.
Hukum
d.
Aplikasi
Teori operent conditioning
3.
Teori
Kognitif
4.
Teori
Belajar Humanistik
E.
Aplikasi
Teori Belajar
BABA IV
Konsepsi Belajar dan Peranan Guru
A.
Proses
BelajarPrilaku Belajar pada Siswa
Dalam
psikologi pendidikan belajar diartikan; sebagai suatu proses usaha dilakukan
individu untuk memperoleh
B.
Prilaku
guru dalam mengajar
C.
Karakteristik
Mengajar
D.
Pengajar
yang Efektif
BAB V
PERSIAPAN GURU DALAM PROSES PEMBELAJARAN
A.
Langkah
sebelum mengajar
1.
Menentukan
tujuan pengajaran baik tujuan angka panjang maupun tujuan jangka pedek. Adapun
hasil-hasil yang ingin dicapai dalam proses belajar mengajar yaitu:
a.
Kompetisi
Dasar (KD) atau Tujuan Intruksional Khusus (TIK)
b.
Standar
Kompetensi (SK) atau Tujuan Intruksional Umum (TIU)
c.
Standar
Kompetensi Kelompok MATA Pelajaran (SKKMP) atau Tujuan Kurikuler
d.
Standar
Kompetensi Satuan Pendidikan (SKL-SP) atau tujuan Tujuan Institusional
e.
Tujuan
Nasional
2.
Guru
harus memilih strategi mengajar untuk meraih tujuan-tujuan tersebut dan
mengumpulkan bahan-bahan pengetahuan dan keterampilan yang berguna untuk
mengajar teresebut.
3.
Guru
harus menyadari tingkat kesiapan siswa untuk menerima pelajaran.
4.
Merancang
cara penilaian
a.
Bagaimana
ukuran menentukan pencapaian tujuan pengajaran.
b.
Dengan
cara bagaimana proses mengajar dan hasil belajar itu dinilai.
c.
Bagaimana
hasil penilaian itu akan berpengaruh terhadap keputusan-keputusan pengajaran
berikutnya.
d.
Bagaimana
melibatkan siswa agar masuk kedalam komunitas belajar.
B.
Langkah
Pelaksanaan Mengajar
Langkah ini berupa pelaksanaan strategi-strategi yang telah
dirancang untuk membawa siswa mencapai tujuan pengajaran, pada umumnya lngkah
ini meliputi komunikasi, kepemimpinan, motivasi dan kontrol (pembinaan disiplin
dan pembinaan). Sebelum menyampaikan materi pelajaran harus dilkukan:
Pengantar Materi Pelajaran
Sebelum memulai penympaian materi, guru harus berusaha menyiapkan
psikis siswa untuk belajar, dengan cara menyampaikan pengntar mengajar atau
melihat kesiapan siswa untuk belajar.
Komponen Pengantar Pembelajaran
Ada
beberapa unsur harus dilakukan guru dalam memulai pelajaran, artinya harus ada
waktu walaupun singkat menyingkirkan rntangan belajar, hal ini dilakukan ketika
mengantar materi pembelajaran dengan cara menyampaikan poin-poin dibaeah ini.
1.
Sugesti
positif
Jika siswa
tidak merubah pandangan ngatif menjadi pandangan positif terhadap belajar,
pambalajaran akan terhenti walaupun dipaksa tidak menghasilkan perubahan
berarti, justru malah bertambah kronis pandangan negatif terhadap belajar.
2.
Lingkungan
Fisik Positif
Lingkungan
positif akan menimbulkan kesan sugesti positif.
3.
Tujuan
Yang Jelas dan Bermakna
Dalam
pelaksanaan pembelajaran memerlukan gambaran yang jelas tentang tujuan suatu
materi/tema yang sedang dipelajaran, siswa harus sadar apa manfaat/hasil yang
akan diperoleh dari pelajaran yang sedang dipelajaran.
4.
Manfaat
Bagi Pembelajaran
Orang belajar
untuk mendapatkan hasil. Jika tidak ada hassil yang bisa diperoleh mengapa
harus belajar.
5.
Keterlibatan
Siswa
Peran guru
adalah memulai proses pembelajaran, setelah pembelajaran berlangsung guru
menyingkir dengan mundur teratur, selanjutnya yang beajar adalah siswa.
6.
Inkuiri
Dorongan rasa
ingin mengetahui ini harus dikembangkan oleh guru.
7.
Menghubungkan
dan Menciptakan Hubungan
Hubungan adalah
inti kecerdasan, baik didalam otak, ruangan kelas, tempat kerja, semakin sering
orang saling berhubungan pengetahuan dan wawasan, maka semakin cerdas
orang-orang yang berhubungan tersebut.
C.
Mengaktifkan
Siswa
Mengaktifkan siswa merupakan ikhtiar gurur untu memeberi
kesempatan kepada siswa untuk
mengemukakan pendapatnya secara terbuka yang argumentaif dan positif.
D.
Langkah-langkah
Sesudah Mengjar
Langkah ini berupa pengukuraan penilaian hasil mengajar sehubungan
dengan tujuan yang telah ditentukan.
BAB VI
Pendekatan Belajar daan Prinsip Motivasi Belajar
A.
Pendekatan
Pendekataan apapun digunakan dalam Kegiatan Belajar Mengajar
(KBM)ndiharapkan salu mendudukkan siswa sebagai pusat perhatian dan perlakuan.
Berikut pendekatan-pendekatan yang harus dilakukan dalam merancang dan
mengembangkan kegiatan belajar mengajar.
1.
Empat
Pilar Pendidikan
Belajar untuk mengetahui (learning to know) belajar untuk
melakukan (learning to do), belajar untuk menjadi diri sendiri (learning
to be) belajar untuk kebersamaaan (learning to live together)
merupakan pedoman yang harus digunakan didalam pembelajaran dikelas.
2.
Inkuiri
Melalui
Pendekatan Inkuiri diharapkan guru dapat menciptakan pembelajaran yang
menantang sehingga melahirkan interaksi antara gagasan yang diyakini siswa
sebelumnya denagan suatu bukti baru ntuk mencapai pemahaman baru melalui proses
saintifik melalui proses explorasi atau pengujian gagasan baru.
3.
Kontruktifisme
Pandangan
kontruktifisme sebagai filosofi pendidikan mutakhir menganggap semua peserta
didik mulai dari usia TK sampai perguran tinggi memiliki gagasan/pengetahuan
sendiri tentang lingkungan dan peristiwa/gejala alam sekitarnya.
4.
Sains,
Lingkungan, Teknologi, dan Masyarakat (salingtemas)
Science,
environment, tecnologi and societi (SET)
merupakan suatu pendekatan terpadu yang melibatkan unsur ilmu pengetahuan,
teknologi, lingkungan dan masyarakat. Pendekataan ini memadukan pemikiran STS (science,
tecnologi ang society) dan EE environment education) memberi
filosofi baru didalaamnya.
5.
Pembelajaran
Yang Demokratis
Pembeajaran demokratis
adalah bentuk upaya menjadikan sekolah sebagai pusat kehidupan demokrasi
melalui proses pembelajaran demokratis. Pembelajaran demokrsatis merupakan
proses pembelajaran yang dilandasi oleh nilai-nilai demokrasi yaitu;
a.
Penghargaan
terhadap kemampuan
b.
Menjunjung
keadilan
c.
Menerapkan
persamaan kesempatan, dan memperhatikan keragaman peserta didik.
6.
Jaringan
Pengetahuan
Jaringan
pengetahuan adaah mekanisme dalam
pengolahan inforasi yang diterima lalu membentuk suatu pemahaman sistematis
berbentuk spiral
B.
Prinsip
Kegiatan Belajar Mengajar
Kegiatn Belajar
Mengajar (KBM) dirancang mengikuti prinsip-prinsip belajar mengajar dan prinsip
motifasi dalm belajar. Belajar mengajar merupakan kegiatan aktif siswa dalam
membangun makna atau pemahaman. Oleh sebab itu, menjadi tanggung jawab guru
untuk mengembangkan prinsip-prinsip kegiatan belajar mengajar diantaranya
adalah:
1.
Mengembangkan
kemampuan menggunakn ilmu dan teknologi
2.
Menumbuhkan
kesadaran sebagai warga negara yang baik
3.
Belajar
sepanjang hayat
4.
Perpduan
kompetensi, kerjasama, dan solidaritas.
C.
Prinsip
Motivasi Dalam Belajar
Motivasi
merupakan sesuatu yang berarti dalam pencapaian presentasi belajar. Dua
pembangkit motivasi belajar yang efektif adalah keingintahuan dan
keyakinan akan kmampuan diri (Percaya diri)
Berikut ini
prinsip-prinsip motivasi belajar:
1.
Kebermaknaan
Siswa akan
termotivasi untuk belajar jika kegiatan dan materi belajar dirasakan bermakna
bagi dirinya.
2.
Pengetahuan
dan ketermpilan prasyarat
Siswa dapat
belajar dengan baik jika telah menguasai semua prasyarat baik berupa
pengetahuan, keterampilan, maupun sikap.
3.
Model
Siswa akan
menguasai keterampilan baru dengan baik, jika guru memberikan contoh dan model
untuk dilihat dan ditiru.
4.
Keaslian
dan tugass yang menantang
Siswa akan
terotivasi untuk belajar jika meraka diberikan materi. Kegiatan baru atau
gagasan murni/asli dan berbeda.
5.
Latihan
yang tepat dan aktif
Siswa menguasai
pelajaran dengan efektif jika kegiatan belajar mengajar sesuai dengan kemampuan
siswa dan siswa dapat mencapai peran aktif sesuai kompetensi yang diharapkan.
6.
Penilaian
tugas
Siswa
memperoleh pencapaian belajar yang efektif jika tugas dibagikan dalam rentang
waktu tidak terlalu panjang dengan frekwensi pengulangan tinggi.
7.
Kondisis
dan konsekwensi yang menyenagkan
Siswa belajar
terus jika kondisi pemelajaran dibuat menyenangkan, nyaman, jauh dari prilaku
menyakitkan perasaan siswa.
8.
Keragaman
pendekatan
Siswa belajar
jika diberi kesematan untuk memilih dan menggunakan berbagai endekatan dan
strategi belajar.
9.
Mengembangka
beragam kemampuan
Siswa belajar
secara optimal jika pengalaman belajar disjikan dapat mengembangkan berbagai
kemampuan, seperti kemampuan logis, matematis, bahasa, musik, kinektik,
kemempuan inter dan intra personal tiap siswa.
10.
Melibatkan
sebanyak mungkin indra
Siswa akan
menguasai hasil belajar dengan optimal apabila dimungkinkan menggunakan
sebanyak mungin indra untuk berinteraksi dengan materi pembelajaran.
11.
Keseimbangan
pengaturan pengalaman belajar
Siswa lebih
menguasai materi peajaran jika pengalaman belajar diatur sedemikian rupa
sehingga siswa mempunyai kesempatan membuat sesuatu refleksi penghayatan,
mengungkapkan, mengevaluasi apa yang dipelajari.
BAB VII
Diagnostik
Kesulitan Belajar dan Usaha Mengatasi Kesulitan Belajar
A.
Diagnostik
Kesulitan Belajar
Dalaam proses
belajar mengajar tidak selamanya belajar dapat berjalan sesuai dengan rencana
yang telah digariskan, belajar mulus atau tuntas yaitu siswa rajin belajar
secara kontinue, para pelajar penuh perhatian pada pelajarannya, mereka dapat
nilai bagus dan naik kelas terus menerus tanpa ada masalah.
Kesulitan belajar bisa terjadi dan pasti terjadi dalam proses
belajar, namun tingkat kesulitannya berbeda. Kesulitan belajar dapat diartikan
siswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya . seharusnya serius jadi tidak serius, seharusnya rajin jadi malas,
seharusnya berprestasi jadi tidak berprestasi, biasanya riang jadi murung, dan
masih banyak lagi gejala-gejala timbul pada siswacsehingga siswa tidak bisa
belajar sebagaimana mestinya.
Diagnostik Pendidikan
Diagnostik
pendidikan adalah teknik menari sebab-sebab adanya kesulitan belajar atau suatu
kegagalan dalam pendidikan unntuk kemudian diusahakan langkah-langkah perbaikan
lebih lanjut.
Gejala-Gejala Kesulitan Belajar
1.
Prestasi
belajar rendah
2.
Hasil
belajar yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan
3.
Lambat
dalam melakukan tugas-tugas yang dilaksanakan.
4.
Menunjukan
adanya sikap-sikap yang kurang wajar seperti acuh tak acuh, menentang
berpura-pura, berbohong dan lain-lain.
5.
Menunjukan
adnya tingkahlaku berlainan seperti
membolos, datang terlambat, tidak melaksanakan tugas, mengganggu di dalam
maupun di luar kelas, tidak mau mencatat pelajaran, tidak teratur dalam
kegiatan belajar, mengasingkan diri, tersisihkan dalam pergaulan, tidak bekerjasama
dan lain-lain.
6.
Menunjukan
adanya gejala emosional kurang wajar seperti pemurung, mudah tersinggung,
pemarah, tidak atau kurang gembira menghadapi situasi tertentu
Faktor-Faktor Penyebab Kesulitan Belajar
1.
Faktor
intern yang bersumber dari siswa
a.
Keadaan
jasmani tidak menunjang seperti sakit
b.
Kesulitan
belajar karena ruhani, faktor ruhani diantaranya:
1)
Kurangnya
kemampuan dasar (IQ) yang dimiliki (intelegensi), siswa yang memiliki IQ tinggi
dapat dengan mudah menyelesaikan dan sigap menangkap materi, erbeda dengan IQ
rendah sulit dan susah menangkap materi yang diajarkan gurunya.
2)
Kurangnya
bakat
3)
Tidak
adanya minat akan menyebabkan seseorang sulit belajar, dikarenakan tidak ada
bekat dalam pelajaran tersebut atau tidak sesuai dengan kebutuhan dan kecakapan
yang diperlukan dalam kehidupannya.
4)
Motivasi
5)
Faktor
kesehataan mental
6)
Kurang
tepat dengan tipe-tipe siswa yang sedang belajar
Ø Tipe Visual Tipe ini akan mudah menangkap pelajaraan dari
gurunya apabila ada peraga berupa gambar, grafik, bagan, bagan, dan bentuk-bentuk
dimensi lain menjelaskan pelajaran yang sedang dipelajari.
Ø Tipe Auditif mudah mempeajari bahan yangdisajikan dalam bentuk suara
(ceramah) begitu dijelaskan, siswa cepat menangkap pelajaran, selain itu dengan
diskusi suara radio kaset lebih meningkatan pemahamannya.
Ø Inndividu tipe Motorik mudah mempelajari bahan berupa
tulisan-ulisan, gerakan-gerakan.
2.
Faktor
ekstern bersumber dari luar siswa
a.
Situasi
keluarga kurang mendukung. Penyebab dari faktor keluarga antara lain:
1)
Fator
orangtua dan cara mendidik anak. Kuangnya perhatian pada anak, namun tuntutan
sukses sangat tinggi pada anak.
2)
Pola
hubungan orangtua dan anak. Sikap otoriter orangtua ingin dipuja dan dihormati
secara berlebihan menimbulkan kesenjangan dan canggungnya hubungan antara anak
dan orangtua.
3)
Contoh/figur
orangtua.
4)
Suasana
rumah akn memppersulit belajar siswa apabila lingkungan rumah ramai, gaduh,
banyak cekcok atau dengan penuh huru biru pertengkaran.
5)
Keadaan
ekonomi tidak mendukung suasana belajar.
b.
Lingkungan
sekolah yang kurang mendukung situasi belajar antara lain:
1)
Guru,
menjadi kesulitan belajar apabila guru:
Ø Tidak berkualitas
Ø Hubungan guru dengan siswa kurang baik
Ø Guru menuntut standar pelajaran diatas kemampuan anak
Ø Metode mengajar guru menimbulkan kesulitan belajar
2)
Kurikulum
kurang baik
3)
Waktu
sekolah dan disiplin kurang
c.
Pengaruh
media dan lingkungan sosial
1)
Pengaruh
media elektronik
2)
Lingkungan
sosial
B.
Cara
Mengenal Siswa Yang Mengalami Kesulitan Belajar
Beberapa gejala sebagai pertanda adanya kesulitan belajar misalnya:
1.
Mnunjukan
prestasi rendah dibawah rata-rata dicapai oleh kelompok kelas
2.
Hasil
dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan
3.
Lambat
dalam melakukan tugas-tugas belajar
4.
Menunjukan
sikap kurang wajar seperti acuh tak acuh, berpura-pura dan dusta.
5.
Menunjukan
tingkah laku berlainan
1)
Langkah-langkah bimbingan untuk mengatasi kesulitan belajar
·
Mengenali
individu yang mengalami kesulitan
·
Menentukan
sifat dan jenis kesulitan
·
Mencari
latar belakang enyebab kesulitan
·
Menentukan
alternatif kemungkinan usaha pemberian bantuan
·
Melaksanakan
usha pemberian bantuan
2)
Usaha mengatasi kesulitan belajar
·
Memberikan
tugas tambahan
·
Sesuai
dengan kemampuan siswa
·
Memindahkan
kekelompok lain yang diperkirakan dapat membantu
·
Meminta
teman sebayanya yang lebih pandai untuk membanu belajar
·
Memberikan
latihan keterampilan tertentu yang mendasari kemampuan belajar seperti latihan
menulis dan lain-lain
·
Mengirmkan
kepada ahli khusus untuk memperoleh latihan intensif mengembangkan bakat-bakat
khusus
Secara garis
besar, langkah-langkah yang perlu ditempuh dalam rangka mengatasi kesulitan
belajar, dilakukan melalui tahapan-tahapan:
a.
Pengumpulan
data
b.
Penggolahan
data
c.
Diagnosis
d.
Prognosis
e.
Treatment (perlakuan)
f.
Evaluasi
C.
Bentuk-Bentuk
Masalah
Bentuk-bentuk maslah dihadirkan siswa dapat dibagi menjadi dua
sifat, regresif dan agresif. Bentuk-bentuk yag bersifat regresif
antara lain: suka menyendiri, pemalu, penakut, mengantuk tak mau masual
ditandai dengan malas ak sekolah. Sedangkan yang bersifat agresif antara lain
berbohong, pembikin onar, memeras temannya beringas, dan prilaku-prilaku lain
yang bisa menarik perhatian oranglain.
D.
Mengajar
Remedial
Pengajar remedial dapat diberikan kepada siswa yang tidak menguasai
pelajaran secara keseluruhan.
E.
Anak
Terbelakang Mental
Keterbelakangan mental ditandai degan malas atau kurang perhatian
terhadap pelajaran.keterbelakangan mental ini bisa diakibatkan IQ rendah yang
menunjukan bahwa seorang anak tidak berusaha keras dalam belajar.
Kategori IQ terbelakaang adalah:
Tingkat
IQ
|
Keterangan
|
70-90
|
Rendah
|
50-70
|
Terbelakang
|
20-50
|
Imbesil
(bodoh)
|
0-20
|
Moron
(dungu)
|
Penyebab Keterbelakangan Mental
a.
Anoxia
(traoma kelahiran)
b.
Penyakit
infeksi dari si Ibu
c.
Hereditas,
keterunan atau kawin sesama keluarga
d.
Radang
otak atau epilaepsi
e.
Ibu
hamil kurang giji
Gejala Harus
Ditangani Dokter Ahli
Gejala yang
merupakan kelainan harus ditangani dokter ahli ialah anak austistik,
dyselexia, dan epilepsi (cacat otak)
Anak Autistik
a.
Cepat
naik darah karena adanya prlakuan tidak normal terhadap mereka, seperti
menghina
b.
Dapat
melukai diri sendiri
c.
Pengamatan
berlebihan terhadap organ-organ tubuhnya sendiri
d.
Perhatian
berlebihan dan terlalu lama terhadap suatu tanpa mempedulikan kegunaannya
e.
Penolakan
besar terhadap setiap perubahan lingkungan dan tertarik pada sesuatu bersipat
monoton
f.
Melebih-lebihkan
atau menganggap enteng suatu reaksi dari kejadian-kejadian yang normal
misalnyamenolak untuk melihat atau mendengar sesuatu atau menjadi tidak peka
terhadap kesedihan.
g.
Gaga
ataau terlambat dalam berbicara atau terpatah-patah
h.
Sikap
tabiatnya tidak wajar dan keras hati
i.
Gabungan
antara haal-hal ganjil dan hal wajar
Dyselexia (buta
huruf)
Dyselexia atau
buta huruf adalah keadaan seorang anak dalam hal lain mempunyai kecerdasan
normal, namun memiliki ketidak mampuan khususnya menghalangi untuk belajar
membaca.
Cacat Otak
Cacat otak ini
diakibatkan karana proses kelahiran yang sulit dan kelahiran yang dipaksakan
dapat menimbulkan kerusakan otak pada bayi.
F.
Anak
Sulit Diajari
Belajar salah satu usaha memberikan bantuan pada orang lain
terampil dalam hidup. Penyebab sulit diajari salah satunya keterdesakan oleh
keinginan kuat emosinnya yang menggelora, tanpa disertai rasionalitas kemampuan
dirinya yang berada dalam lingkungannya.
Salah satu upaya efektif terhadap anak akut sulit yaitu ruangan
tersendiri, tempat dan lingkungan yang khusus terprogram.
G.
Anak
Yang Sangat Cerdas dan Berbakat
Anak berbakat “Gifted Children” lebih populer dari kata
pintar dan mampu. Bakat yang dimiliki seseorang atas karunia pencipta-Nya
kepada dirinya dapat dibagi menjadi tiga bagian:
a.
Bakat
berhubungan degan keterampilan yag bekerja bersama-sama sebagai suatu kesatuan,
misalnya dalam cabang olahraga atau teknik.
b.
Bakat
berhubungan dengan dorongan untuk berkresi, melukis, menggambar, dan lai-lain
c.
Bakat
yang berhubungan dengan fungsi intelektual, seperti kemampuan berfikir,
menalar, melihat satuhubungan dengan hubungan lain, menarik kesimpulan, dan
menggolongkan informassi dengan benar.
H.
Anak-Anak
Dalinkuen
Bia anak mengalami gangguan belajar banyak dijumpai pada priode
sekolah, maka anak dalinkuen banyak terdapat pada masa-masa sesudahnya.
Dalinkuensi terjadi pada masa remaja usia sekolah, namun masih terkendali dan
dapat dimaafkan, tetapi menjadi melonjak setelah remaja sebagai wujud
perkembangan remaja tahap kedua paska sekolah yang berkembangan remaja tahap
kedua paska sekolah yang perkembangannya dipengaruhi oleh tanggungjawab pada
keluarga, pengangguran, gengsi serta kemiskinan oragtua, dalam situasi tersebut
dapat muncul prilaku tak wajar.
I.
Penyiksaan
Anak
Penyiksaan identik dengan kekerasan dan penganiyayaan. Dalam
lingkungan sekolah sering ditemukan anak tawuran beahur dengan penganiyayaan
serta penyiksaan anak oleh temannya. Dalam hal tersebut, penganiyayaan dilakukan
pada anak sekolah termasuk kejahatan atau prilaku penyimpangan.
J.
Anak
Pancaronba dan Pecandu
Anak Pancaroba yaitu mudahnya terkontaminasi oleh budaya yang
mempengaruhinya. Pancaroba ini disebut alienasi yaitu kehilangan atau
menghilangan, hal ini mengandung makna suatu tindakan memutuskan
hubungan-hubungan lama. Hal ini dapat menyebabkan suatu problema berarti,
terutama anak-anak muda dalam priode melepaskan dirinya dari rumah, sehingga
terjadi krisis identitas.
BAB VIII
PENILAIAN
Penilaian atau
penguuran bertujuan untuk mengetahui ketercapaian proses pendidikan yang
dilakukan untuk dikaji dan dianalisis sebagai dasar untuk melakukan tindakan
lanjut pelaksanaan pendidikan selanjutnya.
A.
Fungsi
Penilaian
Dasar utama
melakukan penilaian dalam bidang pendidikan yaitu; atas dasr psikologi,
didaktiss dan administratif.
Dasr psiologi
yaitu untuk menilai usaha yang telah dilakukan baik usaha yang dilkukan oleh
pendidik atau anak didik selama dalam proses pendidikan untuk perbaikan
selanjutnya. Didaktis yaitu sejauh mana proses yang dilakukan apakah tepat
dengan metode yang digunakan, patutlah dipertahankan atau dihilangkan, sehingga
hasil pendidikan lebih mendekati harapan. Dasar administratif yaitu:
a.
Memberikan
data untuk menentukan status anak didik didalam kelasnya, naik kelas atau
tidak.
b.
Memeberikan
ikhtisar mengenai segala hasil usaha yang dilakukan oleh suatu lembaga
pendidikan.
c.
Merupakan
inti laporan tentang kemajuan siswa-siswa kepada orangtua atau pejabat
pemerintah yang berwenang, guru-guru dan juga siswa.
B.
Prinsip
Dasar Penilaian
Untuk
mewujudkan tes sesuai dengan fungsi yang diharapkan maka terdapat
prinsip-prinsip penlaian sebagai berikut:
a.
Mengacu
pada kemampuan
b.
Berkelanjutan
c.
Didaktis
d.
Menggali
informasi
e.
Melihat
benar dan salah
C.
Merencanakan
Tes
Hal-hal yang harus
diperhatikan dalam merencanakan tes adalah
a.
Relevansi
b.
Pengambilan
sampel yang tepat
c.
Kondisi
standar
d.
Kesukaran
yang sesuai
e.
Konsistensi
f.
Skor
yang penuh arti
D.
Analisis
Tugas
Selanjutnya
melakukan analisisa tes item individu Tujuan analisa item adalah mengevaluasi
kualitas item tes.
E.
Penilaian
Hasil Belajar
Acuan penilaian
a.
Setiap
kegiatan belajar mengajar mesti dilakukan penilaian. Penilaian itu bisa dalam
bemtuk angka atau hurup. Penilaian dalam bentuk angka menggunakan skala 0s.d
100, 0 s.d 10. Diperguruan tinggi biasssnya penilaian menggunakan huruf. A, B,
C, D dan E (TL=0)
b.
Nilai
angka/huruf umumnya merupakan hasil tes atau ujian yang diberikan guru/lembaga
pendidikan dalam jangka waktu tertentu. Nilai-nilai tersebut dimasukan kedalam
rapor, ijazah, dan daftar nilai lain.
c.
Nilai
yang dimasukan kedalam rapor atau daftar nilai hasil akhir itu, merupakan
gabungan dari raw skor yang telah diolah, serta tugas lain dalam bentuk
penyusunan makalah, absensi, tes sumatif, tes akhir dll.
d.
Pengolahan
nilai menjadi nilai akhir seorang siswa/mahasiswa dapat dilakukan mengacu pada
kriteria tertentu yaitu penilaian acuan patokan (creation-referencd
evalution) dan penilaian acuan norma (norm-referenced evelution).
F.
Pengaruh
Penilain
Ada
tiga faktor berperan dalam menentukan pengaruh nilai, yaitu; pendapat
siswa tentang hal-hal menyebabkan diperolehnya nilai, nilai ingin diterima oleh
siswa dan nilai yang bisa diterima oleh siswa.
Resume Psikologi Pendidikan
Sumber
:
Aja Rowikarim, Psikologi
Pendidikan (Bandung; Batic Press, 2013)