Awal Perkembangan Fisafat Modern
Berbicara tentang kelahiran dan perkembangan filsafat
pada awal kelahirannya tidak dapat dipisahkan dengan perkembangan (ilmu)
pengetahuan yang munculnya pada masa peradaban kuno (masa Yunani) pada tahun
2000 sebelum masehi Babylon yang hidup di lembah sungai Nil (Mesir) dan sungai
Efrat, telah mengenal alat pengukur berat, table bilangan berpangkat, table
perkalian dengan menggunakan sepuluh jari. Piramida yang merupakan salah satu
keajaiban dunia itu, yang ternyata pembuatannya menggunakan geometri dan
matematika, menunjukkan cara berpikirnya yang sudah tinggi. Selain itu merekapun sudah dapat mengadakan pengamatan benda-benda
langit,baik bintang,bulan,matahari,sehingga dapat meramalkan gerhana bulan
maupun gerhana matahari. Ternyata ilmu yang mereka pakai dewasa ini disebut
astronomi. Di India dan Cina pada waktu itu telah ditemukan cara pembuatan
kertas dan kompas (sebagai petunjuk arah).
Batas jelas mengenai kapan dimulainya penghabisan abad pertengahan sulit
ditentukan. Yang dapat ditentukan ialah bahwa abad pertengahan itu telah
selesai tatkala datangnya zaman Renaissance yang meliputi kurun waktu abad
ke-15 dan ke-16 (bertens: 44). Abad pertengahan adalah abad ketika alam pikiran
dikungkung oleh gereja. Dalam keadaan seperti itu kebebasan pemikiran amat
sangat terbatas, perkembangan sains sulit terjadi, juga perkembangan filsafat,
bahkan dikatakan manusia tidak mampu menemukan dirinya sendiri. Oleh karena
itu, orang mulai mencari alternative. Di dalam perenungan mencari alternative
itu orang teringat pada suatu zaman ketika peradaban begitu bebas, pemikiran
tidak dikungkung, sains maju, yaitu zaman dan peradaban Yunani kuno. Usaha ini
sebenarnya telah dimulai didalam karya orang-orang Italia di dalam
kesusastraan, misalnya pada Petrarce (1304-1374) dan Boccaccio (1313-1375).
1.
Renaissance
Istilah Renaissance
berasal dari bahasa Perancis. Dalam bahasa Latin berarti “re + nasci”
berarti lahir kembali (rebirth). Istilah ini biasanya digunakan oleh
sejarawan untuk menunjuk berbagai periode kebangkitan intelektual, khususnya
yang terjadi di Eropa. Dan lebih khusus lagi di Italia, sepanjang abad ke-15
dan ke-16. Istilah ini mula-mula digunakan oleh seseorang sejarawan terkenal,
Michelet dan dikembangkan oleh J. Burckhardt (1860) untuk konsep sejarah yang
menunjuk kepada periode yang bersifat individualism, kebangkitan kebudayaan
antik, penemuan dunia dan manusia, sebagai periode yang dilawankan dengan
periode abad pertengahan (runes:270). Karya filsafat pada abad ini sering
disebut filsafat Renaissance (runes:271).(ahmad tafsir, 2010:124).
Oleh
sejarawan, istilah tersebut digunakan untuk menunjukkan berbagai periode
kebangkitan intelektual, khususnya yang terjadi di Eropa. Dalam keadaan seperti
itu kebebasan pemikiran amat dibatasi, sehingga perkembangan sains sulit
terjadi, demikian pula filsafat tidak berkembang, bahkan dapat dikatakan bahwa
manusia tidak mampu menemukan dirinya sendiri. Oleh karena itu, orang mulai
mencari alternatif. Dalam perenungan mencari alternatif itulah orang teringat
pada suatu zaman ketika peradaban begitu bebas dan maju, pemikiran tidak
dikungkung, sehingga sains berkembang, yaitu zaman Yunani kuno. Pada zaman
Yunani kuno tersebut orang melihat kemajuan kemanusiaan telah terjadi. Kondisi
seperti itulah yang hendak dihidupkan kembali. Orang yang pertama menggunakan
istilah tersebut adalah Jules Michelet, sejarawan Perancis terkenal.
Menurutnya, Renaissance ialah periode penemuan manusia dan dunia dan bukan
senagai kebangkitan kembali yang merupakan permulaan kebangkitan modern. Bila
dikaitkan dengan keadaan, Renaissence adalah masa antara zaman pertengahan dan
zaman modern yang dapat dipandang sebagai masa peralihan, yang ditandai oleh
sejumlah kekacauan dalam bidang pemikiran. Di satu pihak terdapat Astrologi,
kepercayaan yang bersangkutan dengfan dunia hitam, perang-perang agama, dan
sebagainya, dan di lain pihak muncul lah ilmu pengetahuan alam modern serta
mulai berpengarunya suatu perasaan hidup baru. Pada saat itu muncul lah
usaha-usaha penelitian yang lebih giat yang pada akhirnya memunculkan sains
baru.
Awal mula
dari suatu masa baru ditandai oleh satu usaha besar dari Descartes (1596-1650)
untuk memberikan kepada filsafat suatu bangunan yang baru dalam bidang
filsafat, zaman Renaissance kurang menghasilkan karya penting bila dibandingkan
dengan bidang seni dan sains. Namun, diantara perkembangan itu, terjadi pula
perkembangan dalam bidang filsafat. Descartes
sering disebut sebagai tokoh pertama filsafat modern.
Sejak itu
dan juga telah dimunculkan sebelumnya, yaitu sejak permulaan Renaissance,
sebenarnya individualisme dan humanisme telah dicanangkan. Descartes memperkuat
idea-idea ini. Humanisme dan Indevidualisme merupakan ciri Renaissance yang
penting. Humanisme adalah pandangan bahwa manusia mampu mengatur dunia dan
dirinya. Ini suatu pandangan yang tidak menyenangkan orang-orang yang beragama. Oleh
karena itu, zaman ini sering juga disebut sebagai zaman Humanisme, maksudnya
manusia diangkat dari abad pertangahan.
Ciri utama
Renaissance ialah Humanisme, Individualisme, lepas dari agama (tidak mau diatur
oleh agama), Empirisme, dan Rasionalisme. Filsafat berkembang bukan pada zaman
Renaissance, melaunkan kelak pada zaman sesudahnya (zaman modern). Sains
berkembang karena semangat dan hasil Empirisme itu. Agama Kristen semakin
ditinggalkan, karena semangat Humanisme itu. Ini kelihatan dengan jelas kelak
pada zaman modern. Pada zaman modern filsafat di dahului oleh zaman
Renaissance. Ciri-ciri filsafat Renaissance ada pada filsafat modern. Tokoh
pertama filsafat modern adalah Descartes. Yaitu menghidupkan kembali
Rasionalisme Yunani, Individualisme, lepas dari pengaruh agama. Sekalipun
demikian, para ahli lebih senang menyebut Descartes sebagai tokoh Rasionalisme.
(atang dan beni ahmad, 2008:339-340).
Pada zaman
Renaissance ada banyak penemuan di bidang ilmu pengetahuan. Di antara
tokoh-tokohnya adalah :
1.
Nicolaus Copernicus (1473-1543)
Ia
dilahirkan di Torun, Polandia dan belajar di Universitas Cracow. Walaupun ia
tidak mengambil studi
astronomi, namun ia mempunyai koleksi buku-buku astronomi dan matematika. Ia
sering disebut sebagai Founder of Astronomy.
Ia
mengembangkan teori bahwa matahari adalah pusat jagad raya dan Bumi
mempunyai dua macam
gerak, yaitu : perputaran sehari-hari pada porosnya dan perputaran tahunan
mengitari matahari. Teori itu disebut Heliocentric menggeser teori Ptolemaic.
Ini adalah perkembangan besar, tetapi yang lebih penting adalah metode yang
dipakai Copernicus, yaitu metode mencakup penelitian terhadap benda-benda
langit dan kalkulasi matematik dari pergerakan benda-benda tersebut.
2.
Galileo Galilei (1564-1642)
Galileo Galilei adalah salah
seorang penemu terbesar dibidang ilmu pengetahuan.
Ia Menemukan bahwa sebuah
peluru yang ditembakkan membuat suatu gerak parabola, bukan gerak horizontal
yang kemudian berubah menjadi gerak vertical. Ia menerima pandangan bahwa
matahari adalah pusat jagad raya. Dengan teleskopnya, ia mengamati jagad raya
dan menemukan bahwa bintang Bimasakti terdiri dari bintang-bintang yang banyak
sekali jumlahnya dan masing-masing berdiri sendiri. Selain itu, ia juga berhasil
mengamati bentuk Venus dan menemukan beberapa satelit Jupiter.
3.
Francis Bacon (1561-1626)
Francis Bacon adalah seorang
filosof dan plitikus Inggris. Ia belajar di Cambridge
University dan kemudian
menduduki jabatan penting dipemerintahan serta pernah terpilih menjadi anggota
parlemen. Ia adalah pendukung penggunaan Scientific Methods, ia
berpendapat bahwa pengakuan tentang pengetahuan pada zaman dahulu kebanyakan
salah, tetapi ia percaya bahwa orang dapat mengungkapkan kebenaran dengan Inductive
Methods, tetapi lebih dahulu harus membersihkan pikiran dari prasangka yang
ia namakan idols (arca). Bacon telah memberi kita pernyataan yang klasik
tentang kesalahan-kesalahan berpikir dalam Idols of the Mind. (ahmad
tafsir, 1990:162).
2.
Humanisme
Pada masa
Renaissance muncul aliran yang menetapkan kebenaran berpusat pada manusia, Yang
kemudian disebut dengan Humanisme. Aliran ini lahir disebabkan oleh kekuasaan
gereja yang telah menafikan berbagai penemuan manusia, bahkan dengan doktrin dan
kekuasaan, gereja telah meredam para filosof dan ilmuwan yang dipandang dengan
penemuan ilmiahnya telah mengingkari kitab suci yang selama ini diacu oleh kaum
Kristiani.
Humanisme
menurut Ali Syaryati (1992:39), berkaitan dengan eksistensi manusia, bagian
dari aliran filsafat yang menyatakan bahwa tujuan pokok dari segala sesuatu
adalah kesempurnaan manusia. Aliran ini memandang bahwa manusia adalah makhluk
mulia yang semua kebutuhan pokok diperuntukkan untuk memperbaiki spesiesnya.
Ada empat aliran yang mengklaim sebagai bagian dari Humanisme, yaitu :
1.
Liberalisme Barat
2.
Marxisme
3.
Esiktensialisme
4.
Agama
Liberalisme barat menyatakan
diri sebagai pewaris asli filsafat dan peradaban Humanisme Dalam
sejarah. Yang dipandangnya sebagai aliran pemikiran peradaban yang dimulai dari
Yunani kuno dan mencapai puncak kematangan kesempurnaan relative pada Eropa
Modern.
Teori Humanisme barat dibangun atas asas yang sama yang dimiliki oleh mitologi
Yunani kuno bahwa antara langit dan bumi, alam dewa-dewa dan alam manusia,
terdapat pertentangan dan pertarungan sampai-sampai muncul kebencian dan
kedengkian antara keduanya. Para dewa adalah kekuatan yang memusuhi manusia.
Seluruh perbuatan yang kesadarannya ditegakkan atas kekuasaannya yang lazim
terhadap manusia yang dibelenggu oleh kelemahan dan kebodohannya. Hal ini
dilakukan karena dewa-dewa takut menghadapi ancaman kesadaran, kebebasan,
kemerdekaan, dan kepemimpinan manusia atas alam. Setiap manusia yang menempuh jalan
ini dipandang telah melakukan dosa besar dan memberontak kepada dewa-dewa.
Karena pemberontakkannya itu, manusia dihukum dengan berbagai siksaan yang amat
kejam.
Berdasarkan hal itu, pertempuran antara dewa-dewa dan manusia, pada dasarnya
adalah pertempuran alam yang berlaku atas kehidupan, kehendak dan nasib
manusia. Dengan kekuatan, kecerdasan, dan kesadarannya yang terus meningkat,
manusia mencoba untuk membebaskan dirinya dari cengkraman kekuatan tersebut,
agar dia bisa menentukan urusannya sendiri dan menjadi kekuatan paling berkuasa
atas alam semesta ini. Artinya, ia bisa menjadi wakil zeus yang
merupakan fenomena kekuasaan alam atas manusia.
Kesalahan barat yang paling serius yang diatasnya ditegakkan bangunan Humanisme
modern dunia mitologi Yunani kuno yang bergerak di seputar jiwa yang terbatas,
alami dan fisikal, dan dunia spiritual yang sacral dalam pandangan agama-agama
besar timur sekalipun ada perbedaan esensial antara keduanya sebagai dunis yang
sama dan menganalogikan fenomena yang ada dalam hubungan manusia dengan ahuramazda,
rhama, Tao, Yesus sang juru selamat, dengan hubungan manusia dengan zeus,
bahkan mereka menyatakan adanya kesamaan antara keduanya. Padahal, mereka tahu
bahwa kedua bentuk hubungan tersebut sepenuhnya berbanding terbalik.
Pada mitologi Yunani Kuno pada
terdapat bramateuf yang menghadiahkan “api ketuhanan” kepada
manusia, yang dicurinya dari pada dewa ketika mereka sedang tidur lelap, lalu
dibawaknya kebumi.Bramateus memproleh siksaan keras akibat dosanya itu. Adapun
dalam agama-agama terdapat malaikat besar, iblis, yang kemudian diusir dan
dilaknat oleh tuhan,karena ia mengingkari perintah Allah dan tidak mau bersujud
kepada Adam sebagaimana Malaikat lainnya.
Selanjutnya, ”api ketuhanan” itu
ditemukan dalam agama-agama dalam bentuk nur (cahaya, hikmah atau dakwah) dari
langit yang dibawak oleh para utusan ilahi untuk disampaikan kepada manusia,
dan seterusnya anak-cucu adam disuru untuk berkiprahdan berdakwah, takut (akan
siksa ilahi) dan berharap agar mereka terbebas dari kegelapan menuju cahaya.
Berbeda dengan zeus, dalam agama-agama, Tuhan berkhendak membebaskan manusia
dari belenggu tersebut adalah mengikuti “api bramateus”.Itulah sebabnya, bila
dalam pandangan Yunani Kuno yang memitoskan alam tersebut, humanisme mengambil
bentuk sebagai penentang kekuasaan para dewa, yakni Tuhan-Tuhan alam dan
sesembahan mereka. Berdasarkan itu hal itu,humanusme yunani berusaha untuk
mencapai jati diri manusia dengan seluruh kebenciandengan tuhan pengingkarannya
atas kekuasaannya serta memutuskan taliperhamban manusia dengan “langit”,
ketika ketika ia menjadikan manusia sebagai penentu benar atau tidaknya suatu
perbuatan, dan menentukan bahwa segala potensi keindahan itu terletak pada
tubuh manusia.
Kosistensi humanisme seperti itu,
manakala menampakkan dirinya di depan “ langit “ ia pun berubah sosoknya
menjadi bercorak bumi dan menyimpang kearah materialisme atau pengagungan
terhadap nilai-nilai materialis. Itu sebabnya, humanisme, dalam pandangan Barat
sejak Yunani kuno hingga Eropa modern bermuara pada materialisme, dan menemukan
nasibnya yang tercermin dalam liberalisasi sains, peradaban Borjuis barat,
Marxisme timadur.
Semua otu menyeret humanisme
yang mengagungkan manusia di barat untuk memilih bentuk dengan posisi yang
semakin meningkat penentangnya terhadap theisme, karena katolik abad
pertengahan menjadi agama masehi yang dipandangnya sebagai agama mutlak,
sebagai musuh humanisme, serta menciptakan pertarungan langit dan bumi yang
juga ada pada metologi Yunai dan Romawi kuno. Akibatnya, manusia sejalan dengan
interpretasi-interpretasi tentang Yunani “dosa asal “ dan pengusiran manusia
dari surga” dinyatakan sebagai mutlak yang dipaksa tunduk kepada kehendak
tuhan dan tertindas di muka bumi, serta menyebutnya sebagai “pendosa yang lemah
dan terkutuk” . yang memperoleh pengecualian dari komunitas manusia seperti itu
hanyalah lapisan kaum pendekarvkarena pandang memiliki “roh tuhan” , dan bahwa
satu-satunya jlan menuju kebahagian yang harus ditempuh orang lain adalah
taklik buta kepada mereka, serta bergabung dalam lembaga resmi yang
dikendalikan oleh suatu institusi formal yang mengatas namakan diri sebagai
wakil tuhan dimuka bumi.
Metode berfikir seperti inilah yang
menyebabkan theisme yang menjadi lawan humanisme, dan cara prealisasian
kekuasaan tuhan ini, secara paksa, digerakan diatas mazhab yang menjadikan
humanisme sebagai korbannya. Oleh karna itu, humanisme pada abad pertengahan
betul-beul tertindas. Itulah sebabnya fenomena-fenomena abad pertengahan
merupakan ungkapan dari lukisan-lukisan metafisik dan apa yang dibalik alam
manusia: roh kudus, yesus kristus, malaikat, mukjizat, dan sebagainnya. Walupun
disitu terlihat wajah manisnya, itu pasti wajah orang-orang suci. Itupun pasti
dengan jubah yang menutup kepala hingga mata kaki, dan lazimnya merekapun
tersembunyi demikian rupa, atau tenggelam dibalik cahaya malaikat. Inilah
alasannya perhatian sepenuhnya dalam estitika yunani dicurahkan pada tubuh
manusia, dan bangunan keindahan dipusatkan pada lekak-lekuk tubuh telanjang.
Patung-patung dan lukisan yunani yang mengemukakan keindahan kepada manusia dan
menjadikan puncak keindaha terletak pada tubuh telanjang, merupakan gaya yang
muncul dari humanisme seperi itu. Oleh karna itu, seni di eropa mengenal
unsur-unsur kemanusiaan.
Kalau kita bisa mengatakan bahwa
humanisme pasca renaissance di eropa modern merupakan kelanjutan dari humanisme
yunani kuno, kitapun bisa mengatakan bahwa mazhab langit yang ada dalam agama
masehi abad pertengahan juga merupakan kelanjutan dari mazhab langit dalam
metologi yunani dan romawi kuno, baik yang ada pada abad pertengahan maupun
abad modern sekarang ini.
Bagaimanapun, liberarisme barat yang
borjuis maupun komunis, kedoa duanya mengklaim bahwa tercapainya pengembangan
potensi-potensi manusia bisa dilakukan dengan cara pribadi dan kebebasan
berfikir kepada manusia dalam penelitian ilmiyah, mengemukakan pendapat, dan
produk-produk ekonomi. Adapun yang kedua mengklaim bahwa tujuan tersebut bisa
tercapai dengan cara tidak mengakui kebebasan-kebebasan filsafat dan
memasungnya dalam kepemimpinan diktator tunggal, yang di bantu kelompok
tunggal, kemudian membentuk manusia dalam sosok yang sama pula.
Akan tetapi filsafat dan rekayasa
manusianya persis sama dengan terkandung dalam filsafat borjuis-liberalis,
yaitu meratanya borjuis pada seluruh bangunan masyarakat.Tidakah menggelikan
manakala kemudian dikatakan bahwa denga demikian, marxisme jauh lebih borjuis
daripada borjuisme? Benar, memang mengelikan, dan itu dari sudut pandagan
humanisme adalah faktual.Sebagaimana halnya dengan liberalisme barat borjuis
yang mengklaim sebagai pewaris peradaban humanisme dalam sejarah, marxismepun
mengklaim diri sebagai metode untuk merealisasikan humanisme dalam bentuk
manusia sempurna.Eksistensialisme, mengajukan klaim lebih dari dua aliran
sebelumnya, seperti yang terlihat dalam ucapan sartre, “eksistensialisme adalah
humanisme itu sendiri,” dengan klaim seperti itu, otomatis eksistensialisme
mempunyai hak yang lebih besar dari pada dua yang tersebut terdahul.
Mengingat semua agama menyatakan
bahwa atas dakwahnya memberi petunjuk kepada manusia menuju kebahagiaan abadi,
tidak bisa tidak, ia memilh filsafat tersendiri tentang manusia. Serba musthil
berbicara tentang kebahagiaan manusia, sepanjang belum dijelaskan terlebih
dahulu makna yang definitif tentang manusia.Dengan demikian, semua agama
dimulai dengan filsafat pembentukan dan perekayasaan manusia. Berdasarkan hal
itu, sejalan dengan pandangan berbagai aliran pemikiran tentang manusia yang
berkembang dewasa ini, yang menganggap manusia sebagai jati diri atau sejenis
itu, dan itu diklaim sesuai dengan pandangan aliran masing-masing.
Pemikiran filsafat dapat diupayakan
lebih bersifat praktis, karena semakin pesatnya orang mngunakan metode
induksi/eksperimental dalam berbagai penelitian ilmiyah, akibatnya perkembangan
pemikiran filsafat mulai tertinggal oleh perkembangan ilmu-ilmu alam kodrat
(natural sciences). Rene Descartes (1596-1650) sebagai bapak filsafat modern
yang berhasil melahrkan sebuah konsep dari perpaduan antara metode ilmu alam
denganilmu filsafat.
Upaya ini dimaksudkan agar kebenaran
dan kenyataan filsafat juga sebagai jelas dan terang. Pada abad ke-18,
perkembangan pemikiran filsafat mengarah kepada filsafat ilmu pengetahuan,
dimana pemikiran filsafat diisi dengan upaya manusia, bagaimana cara sarana apa
yang dipakai untuk mencari kebenaran dan kenyataan.
Sebagai tokohnya George Berkeley
(1685-1753), David Hume (1711-1776), J.Rousseaun (1722-1778). Dijerman muncul
Cristian Wolft (1679-1754) dan Immanuel Kant (1724-1804), yang mengupayakan
agar filsafat menjadi ilmu pengetahuan yang pasti dan berguna, yaitu dengan
cara membentuk pengertian-pengertian yang jelas, bukti yang kuat. Pada abad
ke-19, perkembangan pemikiran filsafat terpecah belah. Pemkiran filsafat pada
saat itu telah mampu membentuk suatu kepribadian tiap-tiap bangsa dan
pengertian dan caranya sendiri.Ada filsafat Amerika, Prancis, Inggris, Jerman,
Tokoh-tokohnya adalah Hegel (1770-18311), Karl Marx (1818-1883), Augst Comte
(1798-1857), JS.Mill (1806-1873), Jhon Dewey (1858-1952).
Demikian beberapa uraian tentang
sejarah kelahiran filsaft secara umum.Dengan adanya ragam variasi model
peikiran filsafat tersebut di maksudkan akan menciptakan suasana pikir generasi
mendatang untuk lebih kritis. Terpacu dan terinspirasi untuk
mengimplementasikan pemikiran filsafatyang kontekstual dengan perubahan zaman
dimana ia tinggal. Karena hakikatnya berfikir secara mendalam sampai hakikat,
atau berpikir secara global, menyeluruh, atau berpikir yang dilihat dari
berbagai sudut pandang ilmu pengetahuan. Berfikir yang demikian ini sebagai
upaya untuk dapat berpikir secara tepat dan benar serta dapat dipertanggung
jawabkan.Dengan memahami konsep yang mendasari sejarah kelahiran masing-masing
pemikiran filsafat, diharapkan dapat menjadikannya sebagai pandangan hidup,
sebagai penjelmaan manusia secara total dan sentral sesuai dengan hakikat
manusia sebagai makhluk modoalisme (manusia secara kodrat terdiri dari jiwa dan
raga).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar