Husni Abdul
Holiq
Abstrak
Hapalan merupakan momok yang berat yang dimiliki oleh sebagian siswa
sehingga banyak siswa yang merasa keberatan apabila diberi mata pelajaran yang
diharuskan dirinya untuk mengahapal. Misalkan dalam mata pelajaran Al-Qur’an
siswa dituntut untuk menghapal pelajaran agar dapat mempermudah bacaan juga
dapat mempeurmudah siswa dalam memahami isi kandungan dalam ayat Al-Qur’an.
Penggunaan metode drill diharapkan mampu meningkatkan hapalan siswa.
Langkah penerapan metode drill yaitu: a. guru membacakan ayat AL-Qur’an
sesuai dengan bacaan makhorijul huruf menggunakan tahsin. b. Siswa menyimak
bacaan yang dibacakan guru kemudian mengulanginya sesuai dengan bacaannya. c.
Guru memperhatikan bacaan yang dibacakan oleh sisiwa sambil memperbaiki apabila
dalam bacaan tersebut terdapat kesalahan. d. Guru mengulangi kegiatan tersebut
sampai murid hapal dengan bacaan Al-Qur’an. Dengan penerapan metode ini
diharapkan bisa membantu guru dalam menyampaikan pembelajaran juga memberi
solusi bagi siswa teknik menghapal yang mudah.
Kata Kunci : Metode,
Hapalan, Drill
PENDAHULUAN
Lembaga pendidikan yang berada di Indonesia dibagi
menjadi dua yaitu pendidikan formal dan non fomal. Pendidikan formal terdiri
dari sekolah-sekolah yang berada di bawah naungan dinas pendidikan dan kemenag.
Sedangkan pendidikan non formal yaitu lembaga pendidikan yang berada bukan
dibawah naungan dinas pendidikan dan kemenag seperti kursus atau prifat.
Lembaga pendidikan formal memiliki kurikulum
sebagai acuan materi yang akan disampaikan kepada peserta didik. Dengan adanya
kurikulum pengajar dengan mudah menyusun rencana untuk proses pembelajaran.
Kurikulum yang menjadi acuan guru meliputi semua
mata pelajaran begitu juga pelajaran Pendidikan Agama Islam. Di dalam kurikulum telah tercantum materi yang
akan disampaikan. Materi yang terdapat dalam Pendidikan Agama Islam (PAI)
diantaranya membahas tentang akhlak, akidah, fiqih, tarikh, hadits dan
Al-Qur’an. Materi tersebut diberikan kepada seluruh jenjang pendidikan mulai
dari SD, SMP bahkan SMA. Namun, isi
materi yang dimuat dalam setiap satuan pendidikan berbeda-beda tergantung
jenjang pendidikan yang sedang ditempuh. Dalam penyampaian materi pembelajaran
seorang guru harus memiliki model pembelajaran.
Model pembelajaran diartikan sebagai prosedur sistematis
dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar. Dalam
hal ini berarti model pembelajaran mencakup keseluruhan tahappan proses
pembelajaran baik itu dari persiapan, proses sampai kepada tujuan pembelajaran.
Dalam proses pembelajaran guru sering menemukan
kesulitan ketika menyampaikan pembelajaran kepada siswa. Kesulitan itu bisa
dari guru dan siswa bisa juga dari luar pembelajaran. Kesulitan yang bersumber dari guru diantaranya yaitu kurangnya
perubahan dalam proses belajar mengajar. Kebiasaan kebanyakan guru di Indosesia
lebih memilih mengajar menggunakan metode ceramah dengan alasan metode tersebut
lebih praktis tidak terlalu banyak memerlukan persiapan dan mampu dipraktikan
di berbagai materi pembelajaran. Padahal karena teralu seringnya guru
menggunakan metode tersebut membuat siswa menjadi jenuh mengikuti proses
pembelajran dan pelajaran akan pasif karena siswa menjadi objek pembelajaran.
Tidak dilibatkannya siswa dalam proses belajar
mengajar dapat menjadi hambatan guru ketika proses belajar hapalan berlangsung
karena siswa tidak diberikan ruang untuk menghapal pelajaran yang diberikan
oleh guru.
Adapun hambatan selain dari guru dan siswa
diantaranya kurangnya sarana dan prasarana yang memadai, lingkungan. Ditambah
lagi peran orang tua yang acuh tak acuh dalam perkembangan pola pikir anak.
PERMASALAHAN
Tercapainya tujuan pembelajaran dipengaruhi oleh
dua faktor utama yakni dari siswa dan dari luar siswa. Sebagaimana menurut
Ricahrd Carl (1981) bahwa hasil belajar siswa disekolah 70% dipengaruhi oleh
kemampuan siswa dan 30% dipengruhi oleh lingkungan.
Salah satu materi pembelajaran di sekolah formal
adalah materi pembelajaran Al-Qur’an. Agar mempermudah pemahaman terhadap
materi Al-Qur’an yaitu dengan cara menghapalnya karena hapalan adalah kunci
tercapainya materi. Dengan hapalnya materi ayat AL-Quran apalagi dengan
terjemahnya siswa mampu dengan mudah mengurai isi yang terkandung dalam ayat
AL-Qur’an.
Namun, Hampir disetap jenjang pendidikan yang
ditempuh materi tentang Al-Qur’an sulit untuk dihapal oleh peserta didik. Tidak
semua pesrta didik mampu dengan cepat menghapal ayat Al-Qur’an apalagi dengan
terjemahnya.
Kesulitan menghapal Al-Qur’an biasanya berawal
dari peserta didik itu
sendiri. Peserta didik ketika dihadapkan dengan hapalan merasa keberatan,
merasa tidak mampu untuk menghapalnya. Apalagi hapalan tersebut sangat panjang.
Berbagai alesan dilontarkan mulai dari “saya sulit untuk menghapal” “saya bukan
anak pesantren” “saya orang awam”
“hapalannya terlalu banyak”.
Hal tersebut sudah menggambarkan pola pikir anak
bahwa menghapal Al-Qur’an itu suit padahal dengan cara menghapal materi
pembelajaran akan dengan mudah tersampaikan.
Kesalahan seorang guru apabila dihadapkan materi
Al-Qur’an hanya menyampaian isi kandungan dari Al-Quran tanpa membimbing
peserta didik untuk menghapal. Apabila guru menugaskan anak untuk menghapal
biasanya guru memberi waktu bagi peserta didik untuk menghapal secara mandiri
sampai waktu tersebut telah habis. Setelah waktu yang ditentukan telah habis
kemudian seorang guru mengecek hapalan yang dimiliki oleh peserta didik.
Dengan dilepasnya anak untuk menghapal sendiri
biasanya anak akan lebih memilih mengobrol dan bercanda dengan temannya jika
dibandingkan dengan menghapal pelajaran. Karena menghapal merupakan sesuatu
yang berat untuk dilakukan. padahal menghapal pelajaran lebih penting daripada
mengobrol dan bercanda. Akibatnya materi yang seharusnya tersampaikan dengan
baik jadinya tidak tersampaikan
Seorang guru bisa mengajak peserta didiknya agar
semangat menghafal Al-Qur’an dengan giat dan benar. Banyak manfaat yang
diberikan dari hapalnya Al-Quran selain dari tercapainya materi pembelajaran
juga banyak manfaat lainnya seperti terciptanya seorang hafidz baru.
Cara guru mengajak anak menghapal Al-Qur’an yaitu
dnegn cara ikut sertanya guru ketika murid menghapal Al-Qur’am. Artinya guru
ikut menghapal bersama peserta didik dengan cara mengarahkan murid menghapal
Al-Qur’an menggunakan metode pemdidikan. Guru bisa mengarahkan terhadap peserta
didik cara menghapal Al-Qura’an dengan mudah. Ada berbagai macam cara yang bisa
dilakukan oleh guru untuk meningkatkan hapalan. Diantara berbagai macam metode
atau caranya yaitu dengan cara make a mace, lauhun, dan metode drill.
Dalam penulisan jurnal ini penulis berencana
mengangkat permasalahan hapalan AL-Qura’an. Dengan melihatnya permaslahan
diatas dapat digambarkan bahwa siswa memiliki kesulitan ketika menghapal
Al-Qur’an. Apalagi Al-Qur’an merupaka kitab suci yang harus di Imani dan
dijaga. Maka diperlunya dorongan dari
guru agar bisa mempermudah seorang anak menghafal Al-Qur’an. Salah satu cara
agar hapal Al-Qur’an dengan mudah yaitu menggunakan metode Drill.
Dengan menggunakan metode drill diharapkan
siswa bisa dengan mudah menghapal Al-Qur’an karena metode akan membuat anak
akan mengulang bacaan sampai siswa fasih membacanya kemudian siswa akan dengan
mudah menghapal Al-Qur’an.
SOLUSI PERMASALAHAN
Landasan Teoretis Pemecahan Masalah
Untuk memecahkan masalah sulitnya siswa
menghafal Al-Qur’an di sekolah. Penulisa akan terfokuskan kepada guru.
Diharapkan guru memiliki inofasi dalam pembelajaran. Terdapat banyak metode
pendidikan yang bisa diterapkan guru ketika pembelajaran berlangsung.
Salah satu metode yang dianjurkan oleh
Al-Qur’an yaitu pengulangan pelajaran seuai dengan Al-Qur’an surat Al-‘Araf
ayat 204
وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآَنُ
فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Artinya : “dan apabila dibacakan Al-Qur’an,
maka degarkan baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat
rahmat”
Didalam ayat tersebut dijelaaskna bahwa
ketika seorang guru membacakan Al-Qur’an maka siswa harus mendengarkan dengan
seksama kemudian siswa mengulang bacaan yang dibacakan oleh guru. Metode
dianjurkan agar guru bisa sekalian mengoreksi bacaan siswa. Metode ini sering
disebut dengan metode drill.
Menurut Nasution (1995) metode jalan yang
harus dilalui atau cara untuk melakukan sesuatu atau prosedur. Metode yang
dapat diterapkan dalam penghapalan Al-Qur’an yaitu metode drill. Menurut
Zuhairini (1980) Metode ini berasal dari metode pengajaran herbart, yaitu metode assosiasi dan ulangan tanggapan, yang dimaksudkan untuk memperkuat tanggapan pelajaran pada murid-murid. Sehingga murid ditunutun
untuk mengulang dan melatih hapalan yang telah dibacakan oleh guru.
Metode drill/latihan siap biasanya
digunakan pada pelajaran-pelajaran yang bersipat motoris pelajaran
ketrampilan,dan pelajaran-pelajaran yang bersipat kecakapan mental dalam arti melatih anak-anak berfikir cepat.
Metode ini berasal dari metode pengajaran
herbart, yaitu metode assosiasi dan
ulangan tanggapan, yang dimaksudkan untuk memperkuat tanggapan pelajaran pada murid-murid. Pelaksaanya secara mekanis
untuk mengajarkan berbagai mata pelajaran dan kecepatan, sehingga menimbulkan
verbalisme pengetahuan murid, kebiasaan menghafal secara mekanis, tanpa
pengertian.
Dalam pendidikan agama, metode ini sering
dipakai untuk melatih ulangan pelajaran al-qur’an dan praktek ibadah. Menurut
riwayat, setiap bulan Ramadhan rasulalloh mengadakan latihan ulang terhadap
wahyu-wahyu yang telah diturunkan sebelumnya
Dengan diterapkannya metode ini diharapkan
bisa mempermudah anak dalam menghapal Al-Qur’an. Jamal Ma’mur Asmani (2014)
hapalan mempunyai pengaruh besar terhhadap keilmuan seseorang.orang yang hafal
mempunyai kekuatan untuk memepardalam pemahaman dan mengembangkan pemikiran
seacara lebih luas. Dengan menghafal pelajaran, seseorang bisa langsung menarik
kembali ilmu setiap saat, dimanapun dan kapanpun. Sangat banyak manfaat yang
diberikan apaila seorang siswa hapal terhadap pelajaran apalagii hapal dalam
pelajaran Al-Qur’an. Selain dari hapal ayat dalam Al-Qur’an diharapkan siswa
bisa hapal beserta artinya. Apabila siswa mampu hapal ayat beserta artinya
siswa akan mamapu dengan mudah menguraikan penjelasan isi kandungan dalam
Al-Qur’an.
Usulan Konsep Pemecahan Masalah
Solusi yang saya usulkan agar sisiwa mampu
menghaal Al-Qur’an dengan cepat yaitu dengan menggunakan metode drill.
pada dasarnya metode drill adalah metode yang dipakai untuk melatih
kemampuan berfikir anak. Metode ini sering digunakan dalam mata pelajaran
matematika dimana seorang guru menjelaskan konsep, jalan atau rumus pemecahana
masalah kemudian siswa mencoba memecahkan soal-soal menggunakan rumus yang di
jelaskan oleh guru.
Saya perbendapat metode drill juga
bisa digunakan dalam mata pelajaran Al-Quran. Seebagaimana menurut pendapat
Zuhairini (1980) bahwa metode drill bisa digunakan dalam menghapal
Al-Qur’an. Cara yang bisa digunakan menggunakan meode drill yaitu dengan
cara pengulangan. Seorang guru memberikan conth cara pembacaan Al-Qur’an siswa
mendengarkan bacaan yang dibacakan oleh guru kemudian siswa mengulang bacaan
guru tersebut. Ketika siswa membacakan bacaaan yang dibacakan oleh guru, guru
mengoreksi tajwid dan makhorijul huruf dalam bacaan siswa apabila bacaaan siswa
ada yang keliru. Kegiatan tersebut terus diulang-ulang sampai beberapa kali.
Sehingga siswa menjadi fasih memebaca Al-Qur’an yang dicontohkan guru. Dengan
seringnya diulang bacaan tanpa disadari siswa bisa menghapal bacaan Al-Qur’an
melalui pengulangan bacaan tersebut. Metode ini bisa dieterapkan dalam satu
kelas sehigga siswa bisa menghapal Al-Qur’an dengan cara bersama-sama. Menurut
Nana Sudjan (2014) pengulangan tidak perlu lama dilakukan asalkan cukup sering
dilakukan. Artinya pengulangan dalam bacaan Al-Qur’an tidak harus lama
dilaknsanakan guru bisa menyuruh siswa dalam beberapa menit mengulang secar
terus meneruh bacaan sampai siswa hapal bacaa tersebut. Ayat yang dibacakan
oleh guru tidak musti panjang bisa mehpala menggunakan kata-perkata atau
ayat-perayat.
Pengulangan bacaan tersebut terus
diulang-ullang sampai hapal. Setelah hapal guru bisa melanjutkan bacaan kepada
bacaan yang lain. Sampai bacaan yang lain hapal. Namun, agarbacan yang
sebelumnya tidak mudah lupa guru bisa mengulag bacaan yang pertama dilanjutkan
bacaan yang selanjutnya murid bisa mengulang bacaan guru tersebut.
Dengan menggunakan metode drill hemat
saya bisa mengkoordinasi pembelajaran dalam satu kelas sehingga meminimalkan
siswa membuat pekerjaan yang tidak bermanfaat seperti mengobrol sehingga siswa
akan terfokus dalam bacaan yang dibacakan leh guru. Slain dari itu siswa yang
hapal terhadap bacaan Al-Qur’an akan merata. Dalam satu kelas hamper semua
siswa akan menghapal Al-Qur’an. Karena siswa dituntut harusa menghapal bacaan.
Langkah penerapan metode drill yaitu: a.
guru membacakan ayat AL-Qur’an sesuai dengan bacaan makhorijul huruf
menggunakan tahsin; b. Siswa menyimak bacaan yang dibacakan guru kemudian
mengulanginya sesuai deengan bacaannya: c. Guru memperhatikan bacaan yang
dibacakan oleh sisiwa sambil memperbaiki apaila dalam bacaan tersebut terdapat kesalahan:
d. Guru mengulangi kegiatan tersebut sampai murid hapal dengan bacaan Al-Qur’an.
Metode ini pernah saya terapakna ketika
praktek mengajar dalam kegiatan praktek penglaman lapangan. Alhamdulilah hasil
yang didapat dengan penggunaan metode ini hampir seluruh siswa bisa menghapal
AL-Qur’an dengan baik dikarenakan setiap bacaan yang dibacakan oleh siswa bisa
dikonrol apabila bacaan yan dibacakan ada yang keliru. Seperti bacaaan tajwid
dan bacaan makhorijul huruf. Juga seluruh siswa bisa mengapal bacaan yang
diulang guru.
PENUTUP
Simpulan
Agar tercapainya suatu
pembelajaran yang efektif diharapkan guru memeberikan inovasi terhadap proses pembelajaran guna meningkatkan minat
belajar anak dan membuat percepatan terhadap pemahaman belajar. Dalam
perkembangan pendiidkan di Indonesia terdapat berbagai macam cara atau metode
pendidikan. Metode pendidikan itu tergantung pembelajarn yang akan diterapkan.
Untuk pembelajaran Al-Qur’na digunakan metode drill. Metode drill
mampu meningkatkan hapalan anak. Dikarenakan metode ini menuntut peserta didik
untuk mengulang bacaan Al-Qur’an yang dibacakan oleh guru. Dengan diulangnya
terus menerus. Tahapan penerapan
metode drill simpulannya yaitu pengulangan kata yang diucapkan oleh
guru. Dengan diulangnya bacaan secera terus menerus maka bacaan akan fasih diucapkan, ilmu tajwid dan makhorijul huruf akan
terkontrol. Dengan menggunakan metode driil diharapkan siswa sehingga bacaan
Al-Qur’an tersebut menjadi hapal.
Selain penggunaan metode dalam proses belajar
mengajar siswa bisa menggunakan metode ini sendiri dirumah dengan cara mengulang
terus hapalan yang dimiliki sampai hapal tersebut bebnar-benar hapal asalkan siswa dengan terus
menerus mangulang bacaannya.
Namun, sesekali siswa memperdengaran bacaan tersebut kepada orang lain. Supaya
orang lain bisa mengoreksi bacaan tersebut.
Saran
Dalam
penyusunan jurnal ini diharapkan para pembaca bisa mengamalkna metode drill untuk
pembelajaran Al-Qur’an. Manfaat dari penggunaan metode ini sangat banyak.
Diantaranya hapalan siswa akan merata, siswa akan senang dalam pembelajaran,
bacaan siswa akan terkontrol. Adapun langkah dalam penerapan metode drill yaitu
guru membacakan ayat dalam Al-Qur’an kemudian siswa mengulangi bacaan tersebut.
Dalam proses pengulangan guru dapat mengoreksi ilmu tajwid dan makhorijul huruf
yang dimiliki oleh siswa. Proses pembacaan ayat tersebut daibacakan secara
terus menerus secara berulang-ulang.
DAFTAR PUSTAKA
Asmani, Jamal Ma’mur. (2014). 7 Tips Aplikasi PAKEM.
Jakarta: DIVA Press
Zuhairini. (1980). Metodik Khusus PENDIDIKAN AGAMA.
Surabaya: Usana Offset Printing.
http://Area.blogwahyu.com/2013/12/pengertian-pendekatan-strategi-dan.html?m=1
diakses tanggal 19 Februari 2017 jam 21:05
Karim, Muslih Abdul. (2014). Agar Sehafal Al-Fatihah.
Bogor: CV. Hilal Media Grup.
Sudjana, Drs. Nana. 2014. Dasar-dasar Proses belajar
mengajar. Bandung: SINAR BARU ALGENSINDO OFFSET Bandung.
Al-Qur’an, Penerbit Dipenogoro
Tidak ada komentar:
Posting Komentar