Kamis, 03 Mei 2018

Resume Buku Psikoligi Pendidikan



A.    Sejarah singkat Psikologi
Psikologi cabang dari Filsafat. Psiologi salah stu disilin ilmu pengetahuan yang relatif muda. Studi ilmiah tentang tingkah laku makhluk hidup bermula pada akhir abad 18. Bermula dari Wilhem Wundt yang mendirikan laboratorium Psikologi yang pertama pada tahun 1879 di Leipzig untuk meneliti peristiwa-peristiwa kejiwaan secara experimmental. W. Wundt mengadakan percobaan-percobaan dalam usaha menyelidiki jiwa lewat gejala-gejala jiwa, karena metode experimen tersebut, W. Wund disebut sebaai tokoh psikologi experimental. W. Wund-lah yang dianggap pelopor utama melepaskan Psiologi dari Filsafat. Sejak saat itu penelitian percobaan di bidang psikologi berkembang pesat. Para peneliti memperluas dan memperdalam penelitin mereka terhadap gambaran reaksi manusia dan pola tingkah laku makhluk hidup lainnya.
Sebagai ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri psiologi memiliki persyaratan sebagai ilmu pengetahuan yaitu :
a.       Objektif; adanya objek dapat dipelajari diamati berupa tingkah laku individu dalam suatu situasi.
b.      Metode; dengan melakukan pengamatan tersebut, diperlukan metode, diantaranya metode intropeksi, observasi  experimen, tes, case sudy, dan ain-lain.
c.       Sistematis; jelas aspek-aspek pembicaraannya, tiap-tiap aspek idak bertentagan merupakan satu kesatuan.

B.     Definisi Psikologi
Menurut bahasa, psykology terdiri psyche jia dan logos ilmu atau ilmu pengetahuan, psikology diartikan ilmu jiwa atau ilmu pengetahuan tentang jiwa. Dai kata tersebut timbul penafsiran berbeda tentang definisi Psikology. Sebagian berpendapat bahwa psikologi ilmmu jiwa itu sendiri, tapi ilmu jiwa belum tentu Psikologi.
C.     Gejal-Gejala Jiwa
Gejala-gejala jiwa adalah perbuatan dilakukan oleh manusia karena dorongan atau rangsangan dari lingkungannya, seseorang melakukan aktifitas atau perilaku terseut disengaja, belum melakukan aktifitas atau prilaku karena refleks seperti; denyut nadi, kedipan mata, aktifitas orang gila. Menurut M. Dimant gejala jiwa dapat dibedakan menjadi emat macam yaitu:
1.      Gejala Pengenalan (kognitis)
a.       Pengamatan; Proses mengenal segala sesutu (benda, orang, peritiwa dan sebagainnya) denagn menggunakan panca indra.
b.      Tanggapan; Tanggapan itu bisa berbentuk tanggapan visual, auditif, olvaktorik, gustatif taktil, dan motorik.
c.       Ingatan; Ingatan meliputi tiga unsur; Mencamkan, menyimpan, dan mereproduksi.
d.      Fantasi; Sebagai kemamuan jiwa membayangkan, menciptakan sesuatu berdasrkan tanggapan yang telah ada.
e.       Berpikir; berpikir ssecara luas yaitu pergaulan dengan dunia abstrak. Secara sempit, berpikir sebagai kesanggupan atau kemmpuan jiwa untuk enghubungkan bagian yang sudah diketahui.
f.       Kecerdasan; kemampuan melakuakn kegiatan complicated rumit, penuh kesukaran, kerumitan, abstrak, kehematan, kesesuaian dengan tujuan, nilai sosial dan keaslian.
2.      Gejala Perasaan (Emosi)
Perasaan sebagai peristiwa kejiwaan yang dhianati oleh suka atau tidak suka.
3.      Gejala Kehendak (Konasi)
Tenaga batin ada dalam diri manusia yang mendrongnya melakukan sesuatu atau serangkaian perbuatan terarah kepada tujuan tertentu.
4.      Gejala Campuran (kombinasi)
Gejala ini disebut gejala campuran karena dari gejala ke-satu dan ketiga saling berhubungan satuu sama lain tak terpisahkan. Gejala tersebut adalah; perhatian, sugesti dan kelelahan
D.    Pembagian Psikologi
Menurut dayono Psikologi dibagi menjdi dua golongan yaitu:
1.      Psikologi metfisika, yang menyelidiki hakikat jiwa seperti dilakukan oleh Plato dan Aristoteles/
2.      Psikologi Empiri, yang menyelidiki gejala-gejalakejiwaan dan tingkah laku manusia dengan mwnggunakan pengamatan (obserasi), percobaan atau eksperimen pengumpulan berbagai mamcam data yang ada hubungannya dengan gejala-gejala kejiwaan manusia.
E.     Definis Pendidikan
Pendidikan dalam bahassa inggris, Education (pedidikan) berasal dari kata educate (mendidik) artinya memberi peningkatan (to elicit, to give rise to), dan mengembngkan (to evlve, to develop). Pendidikan adlah aktifitas oleh diri atau adanya keterliatan yang lain dalam melakukan perubahan.
F.      Definisi Psikologi Pendidikan
Psikologi pendidikan adalah pengetahuan kependidikan yang didasarkan atas dasar hasil temuan riset psikologi. Kemudian hasil temuan riset tersebut kemudian dirumuskan sedemikian rupa sehingga menjadi konsep-konsep, teori-teori, metode-metode, serta strategi-strategi yang utuh. Selanjutnya knnsep, teori, strategi, tersebut, kemudian disistimatiskan hingga menjadi repertoire of resources, yakni rangkaian sumber yang berisi pendekatan yang dipilih dan digunakan untuk praktek-praktek kependidikan khususnya dalam hal belajar mengajar.
Dengan demikian dapat  disimpulakan Pskologi Pendidikan adalah cabang dari psikologi yang mengkaji dan meneliti secara siitematis masalh-masalah pendidikan dalam situasi tertentu agar lebih baik.
G.    Metode Atau Teknik Dalam Psikologi Pendidikan
1.      Angket; yang dipergunakan untuk meneliti indicidu secara komperesif, sehingga diperoleh hipotesa-hipotesa yang dapat dianalisa.
2.      Tes; suatu percobaan yang dilakukan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab, atau perintah-perinatah yang harus dikerjakan, untuk mendapatan gambaran tentang kejiwaan seseorang atau sekelompok orang berdasarkan kaidah-kaidah tertentu.
3.      Eksperimen-eksperimen; dapat dilakukan didalam kelas atau kelompok-kelompok tertemtu untuk uji coba tiori dan aplikasi tiori sehingga didapat pengetahuan baru bersipat aplikatif.
4.      Case histori; penelitin ini dilkukan dalam cakupan sederhana atau lingkup kecil bersipat individual.
5.      Introfeksi; suatu metode digunakan oleh penelitin dengan melakukan tugas mengadakan pengawasan terhadap proses-proses kejiwan yang terjadi dalam diri sendiri.
6.      Metode klinik; dipergunakan untuk meneliti individu atau objek tertentu dalam ruang lingkup tertentu serta jangka waktu yang tidak ditentukan.
7.      Metode filsafat;
H.    Fungsi Psikologi Pendidikan
Psikologi berfungsi memudahkan penajaran dalam menjadikan manusia menjadi lebih baik dengan cara tepat, cermat, cepat, orang-orng yang diajarinya sadar dan mampu mendewasaakan dirinya.
I.       Ruang lingup Psikologi Pendidikan
1.      Poko bahasan mengenai “belajar”
2.      Poko bahasan mengenai “proses belajar”
3.      Poko bahasan mengenai “situasi belajar”
BAB II
Pengaruh Pertubuhan dan Perkembangan dalam Belajar
A.    Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan
Pertumbuhan ialah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses Pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal pada anak yang sehat, dalam passage (perbedaan waktu) tertentu. Perkembangan ialah Perubahan-perubahan psiko fisik sabagai hassil dari proses pematangan fungsi-fungsi fsikis dan fisik pada anak yang ditunjang oleh faktor lingkungn dan proses belajar dalam passage waktu tertentu, menuju kedewasaan.
B.     Awal Pertumbuhan Manusia
Awal mula peristiwa pertumbuhan manusia terjadi dari satu sperma dan satu telur. Satu sperma memasuki sebuah telur dan satu individu baru mulai membentuk diri, kehidupan awal dari individu sangat di pengaruhi oleh kondisi ibu, yaitu wanita yang mengandungnya. Sedangkan peranan ayah dalam menumbuhkan individu baru hanyalah memberikan kemungkinan yang tepat agar individu terkonsep. Apapun yang akan di turunkan oleh seorang ayah kepada anaknya adalah berupa sifat-sifat yang terkandung di dalam satu sperma yang terbuahkan. Untuk mengetahui secara pasti sipat apakah yang terkandung didalam sperma itu bukanlah hal yang mudah.
C.     Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan
1.      Faktor warisan sejak lahir, bawaan (herediter)
2.      Faktor lingkungan yang mempengaruhi baik yang menguntungkan atau merugikan
3.      Kematangan fungsi-fungsi fisik dan fungsi fsikis
4.      Aktifitas anak sebagai subjek yang berkemampuan menseleksi, menolak atau meyetujui, memiliki emosi serta usaha membangun diri sndiri.
D.    Proses Pertumbuhan Fisik yang Wajar
Prose pertumbuhan manusi dimulai dalam kandungan ketika bertemunya dua sel “germ”,
E.     Ciri-ciri Pertumbuhan
Perubahan kuntitatif pada materi pribadi sebagai akibat dari adanya pengauh lingkungan materi pribadi seerti pertumbuhan sel, kromosom butir darah, rambut lemak tulang, adalah tidak dapat dikatakan berkembang melainkan bertumbuh/tumbuh.
F.      Perkembangan
Perkembangan merupakan suatu perubahan yang bersipat kualitatif yang tidak ditekankan padda aspek materi kuantitatif melainkan lebih bersipat perubahan pada segi fungsional.
G.    Kematangan
Kewajaran melakukan aktifitas sesua dengan pertumbuhan dan perkembangan pisik dan psikis individu.
BAB III
Pembelajaran dan Teri-Teori Belajar
A.    Fungsi Teori dalam Pembelajaran
Teori pembelajaran sebagai salah satu pengetahuan diperoleh dari sumber-sumber pengetahuan. Pengetahuan itu diperoleh pertama dari sins, dengan mete ilmiah; logiko hipotetiko verifikatif, kedua filsafat yaiu pemikiran mendalam yang dapat dipahami secara logika nalar dan ketiga; agama sebagai sumber keyakinan dengan metode riyadhoh.
B.     Belajar Atau Pembelajaran
Moch. Surya mendefinisikan belajar dalam psikologipndidikan ialah; “sebagai suatu proses usaha yang dilakukan ndividu untuk memperoleh suatu peubahan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam iteraks dengan lingkungannya.
C.     Proses Belajar
Suatu proses membuat suatu inforasi diperoleh melalui proses persepsual menjadi punya arti dan punya maknabagi proes peilihan tindakan.proses belajar dapat membuat seseorang merubah prilakunya.
D.    Teori-Teori Belajar
1.      Teoi belajar behafioristik
a.       Ivan Pavlov (1849-1936)
b.      Hukum-hukum Thorndike
c.       Jhon B. Watson
d.      Guhtrie
2.      Teori Belajar operant conding
a.       Skinnerian conditioning
b.      Reinforteement
c.       Hukum
d.      Aplikasi Teori operent conditioning
3.      Teori Kognitif
4.      Teori Belajar Humanistik
E.     Aplikasi Teori Belajar



BABA IV
Konsepsi Belajar dan Peranan Guru
A.    Proses BelajarPrilaku Belajar pada Siswa
Dalam psikologi pendidikan belajar diartikan; sebagai suatu proses usaha dilakukan individu untuk memperoleh
B.     Prilaku guru dalam mengajar
C.     Karakteristik Mengajar
D.    Pengajar yang Efektif
BAB V
PERSIAPAN GURU DALAM PROSES PEMBELAJARAN
A.    Langkah sebelum mengajar
1.      Menentukan tujuan pengajaran baik tujuan angka panjang maupun tujuan jangka pedek. Adapun hasil-hasil yang ingin dicapai dalam proses belajar mengajar yaitu:
a.       Kompetisi Dasar (KD) atau Tujuan Intruksional Khusus (TIK)
b.      Standar Kompetensi (SK) atau Tujuan Intruksional Umum (TIU)
c.       Standar Kompetensi Kelompok MATA Pelajaran (SKKMP) atau Tujuan Kurikuler
d.      Standar Kompetensi Satuan Pendidikan (SKL-SP) atau tujuan Tujuan Institusional
e.       Tujuan Nasional
2.      Guru harus memilih strategi mengajar untuk meraih tujuan-tujuan tersebut dan mengumpulkan bahan-bahan pengetahuan dan keterampilan yang berguna untuk mengajar teresebut.
3.      Guru harus menyadari tingkat kesiapan siswa untuk menerima pelajaran.
4.      Merancang cara penilaian
a.       Bagaimana ukuran menentukan pencapaian tujuan pengajaran.
b.      Dengan cara bagaimana proses mengajar dan hasil belajar itu dinilai.
c.       Bagaimana hasil penilaian itu akan berpengaruh terhadap keputusan-keputusan pengajaran berikutnya.
d.      Bagaimana melibatkan siswa agar masuk kedalam komunitas belajar.
B.     Langkah Pelaksanaan Mengajar
Langkah ini berupa pelaksanaan strategi-strategi yang telah dirancang untuk membawa siswa mencapai tujuan pengajaran, pada umumnya lngkah ini meliputi komunikasi, kepemimpinan, motivasi dan kontrol (pembinaan disiplin dan pembinaan). Sebelum menyampaikan materi pelajaran harus dilkukan:
Pengantar Materi Pelajaran
Sebelum memulai penympaian materi, guru harus berusaha menyiapkan psikis siswa untuk belajar, dengan cara menyampaikan pengntar mengajar atau melihat kesiapan siswa untuk belajar.
            Komponen Pengantar Pembelajaran
                        Ada beberapa unsur harus dilakukan guru dalam memulai pelajaran, artinya harus ada waktu walaupun singkat menyingkirkan rntangan belajar, hal ini dilakukan ketika mengantar materi pembelajaran dengan cara menyampaikan poin-poin dibaeah ini.
1.      Sugesti positif
Jika siswa tidak merubah pandangan ngatif menjadi pandangan positif terhadap belajar, pambalajaran akan terhenti walaupun dipaksa tidak menghasilkan perubahan berarti, justru malah bertambah kronis pandangan negatif terhadap belajar.
2.      Lingkungan Fisik Positif
Lingkungan positif akan menimbulkan kesan sugesti positif.
3.      Tujuan Yang Jelas dan Bermakna
Dalam pelaksanaan pembelajaran memerlukan gambaran yang jelas tentang tujuan suatu materi/tema yang sedang dipelajaran, siswa harus sadar apa manfaat/hasil yang akan diperoleh dari pelajaran yang sedang dipelajaran.
4.      Manfaat Bagi Pembelajaran
Orang belajar untuk mendapatkan hasil. Jika tidak ada hassil yang bisa diperoleh mengapa harus belajar.
5.      Keterlibatan Siswa
Peran guru adalah memulai proses pembelajaran, setelah pembelajaran berlangsung guru menyingkir dengan mundur teratur, selanjutnya yang beajar adalah siswa.
6.      Inkuiri
Dorongan rasa ingin mengetahui ini harus dikembangkan oleh guru.
7.      Menghubungkan dan Menciptakan Hubungan
Hubungan adalah inti kecerdasan, baik didalam otak, ruangan kelas, tempat kerja, semakin sering orang saling berhubungan pengetahuan dan wawasan, maka semakin cerdas orang-orang yang berhubungan tersebut.
C.     Mengaktifkan Siswa
Mengaktifkan siswa merupakan ikhtiar gurur untu memeberi kesempatan  kepada siswa untuk mengemukakan pendapatnya secara terbuka yang argumentaif dan positif.
D.    Langkah-langkah Sesudah Mengjar
Langkah ini berupa pengukuraan penilaian hasil mengajar sehubungan dengan tujuan yang telah ditentukan.
BAB VI
Pendekatan Belajar daan Prinsip Motivasi Belajar
A.    Pendekatan
Pendekataan apapun digunakan dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)ndiharapkan salu mendudukkan siswa sebagai pusat perhatian dan perlakuan. Berikut pendekatan-pendekatan yang harus dilakukan dalam merancang dan mengembangkan kegiatan belajar mengajar.
1.      Empat Pilar Pendidikan
Belajar untuk mengetahui (learning to know) belajar untuk melakukan (learning to do), belajar untuk menjadi diri sendiri (learning to be) belajar untuk kebersamaaan (learning to live together) merupakan pedoman yang harus digunakan didalam pembelajaran dikelas.
2.      Inkuiri
Melalui Pendekatan Inkuiri diharapkan guru dapat menciptakan pembelajaran yang menantang sehingga melahirkan interaksi antara gagasan yang diyakini siswa sebelumnya denagan suatu bukti baru ntuk mencapai pemahaman baru melalui proses saintifik melalui proses explorasi atau pengujian gagasan baru.
3.      Kontruktifisme
Pandangan kontruktifisme sebagai filosofi pendidikan mutakhir menganggap semua peserta didik mulai dari usia TK sampai perguran tinggi memiliki gagasan/pengetahuan sendiri tentang lingkungan dan peristiwa/gejala alam sekitarnya.
4.      Sains, Lingkungan, Teknologi, dan Masyarakat (salingtemas)
Science, environment, tecnologi and societi (SET) merupakan suatu pendekatan terpadu yang melibatkan unsur ilmu pengetahuan, teknologi, lingkungan dan masyarakat. Pendekataan ini memadukan pemikiran STS (science, tecnologi ang society) dan EE environment education) memberi filosofi baru didalaamnya.
5.      Pembelajaran Yang Demokratis
Pembeajaran demokratis adalah bentuk upaya menjadikan sekolah sebagai pusat kehidupan demokrasi melalui proses pembelajaran demokratis. Pembelajaran demokrsatis merupakan proses pembelajaran yang dilandasi oleh nilai-nilai demokrasi yaitu;
a.       Penghargaan terhadap kemampuan
b.      Menjunjung keadilan
c.       Menerapkan persamaan kesempatan, dan memperhatikan keragaman peserta didik.
6.      Jaringan Pengetahuan
Jaringan pengetahuan adaah  mekanisme dalam pengolahan inforasi yang diterima lalu membentuk suatu pemahaman sistematis berbentuk spiral
B.     Prinsip Kegiatan Belajar Mengajar
Kegiatn Belajar Mengajar (KBM) dirancang mengikuti prinsip-prinsip belajar mengajar dan prinsip motifasi dalm belajar. Belajar mengajar merupakan kegiatan aktif siswa dalam membangun makna atau pemahaman. Oleh sebab itu, menjadi tanggung jawab guru untuk mengembangkan prinsip-prinsip kegiatan belajar mengajar diantaranya adalah:
1.      Mengembangkan kemampuan menggunakn ilmu dan teknologi
2.      Menumbuhkan kesadaran sebagai warga negara yang baik
3.      Belajar sepanjang hayat
4.      Perpduan kompetensi, kerjasama, dan solidaritas.
C.     Prinsip Motivasi Dalam Belajar
Motivasi merupakan sesuatu yang berarti dalam pencapaian presentasi belajar. Dua pembangkit motivasi belajar yang efektif adalah keingintahuan dan keyakinan akan kmampuan diri (Percaya diri)
Berikut ini prinsip-prinsip motivasi belajar:
1.      Kebermaknaan
Siswa akan termotivasi untuk belajar jika kegiatan dan materi belajar dirasakan bermakna bagi dirinya.
2.      Pengetahuan dan ketermpilan prasyarat
Siswa dapat belajar dengan baik jika telah menguasai semua prasyarat baik berupa pengetahuan, keterampilan, maupun sikap.
3.      Model
Siswa akan menguasai keterampilan baru dengan baik, jika guru memberikan contoh dan model untuk dilihat dan ditiru.
4.      Keaslian dan tugass yang menantang
Siswa akan terotivasi untuk belajar jika meraka diberikan materi. Kegiatan baru atau gagasan murni/asli dan berbeda.
5.      Latihan yang tepat dan aktif
Siswa menguasai pelajaran dengan efektif jika kegiatan belajar mengajar sesuai dengan kemampuan siswa dan siswa dapat mencapai peran aktif sesuai kompetensi yang diharapkan.
6.      Penilaian tugas
Siswa memperoleh pencapaian belajar yang efektif jika tugas dibagikan dalam rentang waktu tidak terlalu panjang dengan frekwensi pengulangan tinggi.
7.      Kondisis dan konsekwensi yang menyenagkan
Siswa belajar terus jika kondisi pemelajaran dibuat menyenangkan, nyaman, jauh dari prilaku menyakitkan perasaan siswa.
8.      Keragaman pendekatan
Siswa belajar jika diberi kesematan untuk memilih dan menggunakan berbagai endekatan dan strategi belajar.
9.      Mengembangka beragam kemampuan
Siswa belajar secara optimal jika pengalaman belajar disjikan dapat mengembangkan berbagai kemampuan, seperti kemampuan logis, matematis, bahasa, musik, kinektik, kemempuan inter dan intra personal tiap siswa.
10.  Melibatkan sebanyak mungkin indra
Siswa akan menguasai hasil belajar dengan optimal apabila dimungkinkan menggunakan sebanyak mungin indra untuk berinteraksi dengan materi pembelajaran.
11.  Keseimbangan pengaturan pengalaman belajar
Siswa lebih menguasai materi peajaran jika pengalaman belajar diatur sedemikian rupa sehingga siswa mempunyai kesempatan membuat sesuatu refleksi penghayatan, mengungkapkan, mengevaluasi apa yang dipelajari.
BAB VII
Diagnostik Kesulitan Belajar dan Usaha Mengatasi Kesulitan Belajar
A.    Diagnostik Kesulitan Belajar
Dalaam proses belajar mengajar tidak selamanya belajar dapat berjalan sesuai dengan rencana yang telah digariskan, belajar mulus atau tuntas yaitu siswa rajin belajar secara kontinue, para pelajar penuh perhatian pada pelajarannya, mereka dapat nilai bagus dan naik kelas terus menerus tanpa ada masalah.
Kesulitan belajar bisa terjadi dan pasti terjadi dalam proses belajar, namun tingkat kesulitannya berbeda. Kesulitan belajar dapat diartikan siswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya . seharusnya serius jadi  tidak serius, seharusnya rajin jadi malas, seharusnya berprestasi jadi tidak berprestasi, biasanya riang jadi murung, dan masih banyak lagi gejala-gejala timbul pada siswacsehingga siswa tidak bisa belajar sebagaimana mestinya.
Diagnostik Pendidikan
            Diagnostik pendidikan adalah teknik menari sebab-sebab adanya kesulitan belajar atau suatu kegagalan dalam pendidikan unntuk kemudian diusahakan langkah-langkah perbaikan lebih lanjut.
Gejala-Gejala Kesulitan Belajar
1.      Prestasi belajar rendah
2.      Hasil belajar yang dicapai tidak seimbang dengan usaha yang telah dilakukan
3.      Lambat dalam melakukan tugas-tugas yang dilaksanakan.
4.      Menunjukan adanya sikap-sikap yang kurang wajar seperti acuh tak acuh, menentang berpura-pura, berbohong dan lain-lain.
5.      Menunjukan adnya  tingkahlaku berlainan seperti membolos, datang terlambat, tidak melaksanakan tugas, mengganggu di dalam maupun di luar kelas, tidak mau mencatat pelajaran, tidak teratur dalam kegiatan belajar, mengasingkan diri, tersisihkan dalam pergaulan, tidak bekerjasama dan lain-lain.
6.      Menunjukan adanya gejala emosional kurang wajar seperti pemurung, mudah tersinggung, pemarah, tidak atau kurang gembira menghadapi situasi tertentu
Faktor-Faktor Penyebab Kesulitan Belajar
1.      Faktor intern yang bersumber dari siswa
a.       Keadaan jasmani tidak menunjang seperti sakit
b.      Kesulitan belajar karena ruhani, faktor ruhani diantaranya:
1)      Kurangnya kemampuan dasar (IQ) yang dimiliki (intelegensi), siswa yang memiliki IQ tinggi dapat dengan mudah menyelesaikan dan sigap menangkap materi, erbeda dengan IQ rendah sulit dan susah menangkap materi yang diajarkan gurunya.
2)      Kurangnya bakat
3)      Tidak adanya minat akan menyebabkan seseorang sulit belajar, dikarenakan tidak ada bekat dalam pelajaran tersebut atau tidak sesuai dengan kebutuhan dan kecakapan yang diperlukan dalam kehidupannya.
4)      Motivasi
5)      Faktor kesehataan mental
6)      Kurang tepat dengan tipe-tipe siswa yang sedang belajar
Ø  Tipe Visual Tipe ini akan mudah menangkap pelajaraan dari gurunya apabila ada peraga berupa gambar, grafik, bagan, bagan, dan bentuk-bentuk dimensi lain menjelaskan pelajaran yang sedang dipelajari.
Ø  Tipe Auditif mudah mempeajari  bahan yangdisajikan dalam bentuk suara (ceramah) begitu dijelaskan, siswa cepat menangkap pelajaran, selain itu dengan diskusi suara radio kaset lebih meningkatan pemahamannya.
Ø  Inndividu tipe Motorik mudah mempelajari bahan berupa tulisan-ulisan, gerakan-gerakan.
2.      Faktor ekstern bersumber dari luar siswa
a.       Situasi keluarga kurang mendukung. Penyebab dari faktor keluarga antara lain:
1)      Fator orangtua dan cara mendidik anak. Kuangnya perhatian pada anak, namun tuntutan sukses sangat tinggi pada anak.
2)      Pola hubungan orangtua dan anak. Sikap otoriter orangtua ingin dipuja dan dihormati secara berlebihan menimbulkan kesenjangan dan canggungnya hubungan antara anak dan orangtua.
3)      Contoh/figur orangtua.
4)      Suasana rumah akn memppersulit belajar siswa apabila lingkungan rumah ramai, gaduh, banyak cekcok atau dengan penuh huru biru pertengkaran.
5)      Keadaan ekonomi tidak mendukung suasana belajar.
b.      Lingkungan sekolah yang kurang mendukung situasi belajar antara lain:
1)      Guru, menjadi kesulitan belajar apabila guru:
Ø  Tidak berkualitas
Ø  Hubungan guru dengan siswa kurang baik
Ø  Guru menuntut standar pelajaran diatas kemampuan anak
Ø  Metode mengajar guru menimbulkan kesulitan belajar
2)      Kurikulum kurang baik
3)      Waktu sekolah dan disiplin kurang
c.       Pengaruh media dan lingkungan sosial
1)      Pengaruh media elektronik
2)      Lingkungan sosial
B.     Cara Mengenal Siswa Yang Mengalami Kesulitan Belajar
Beberapa gejala sebagai pertanda adanya kesulitan belajar misalnya:
1.      Mnunjukan prestasi rendah dibawah rata-rata dicapai oleh kelompok kelas
2.      Hasil dicapai tidak seimbang dengan usaha yang dilakukan
3.      Lambat dalam melakukan tugas-tugas belajar
4.      Menunjukan sikap kurang wajar seperti acuh tak acuh, berpura-pura dan dusta.
5.      Menunjukan tingkah laku berlainan
1)      Langkah-langkah bimbingan untuk mengatasi kesulitan belajar
·         Mengenali individu yang mengalami kesulitan
·         Menentukan sifat dan jenis kesulitan
·         Mencari latar belakang enyebab kesulitan
·         Menentukan alternatif kemungkinan usaha pemberian bantuan
·         Melaksanakan usha pemberian bantuan
2)      Usaha mengatasi kesulitan belajar
·         Memberikan tugas tambahan
·         Sesuai dengan kemampuan siswa
·         Memindahkan kekelompok lain yang diperkirakan dapat membantu
·         Meminta teman sebayanya yang lebih pandai untuk membanu belajar
·         Memberikan latihan keterampilan tertentu yang mendasari kemampuan belajar seperti latihan menulis dan lain-lain
·         Mengirmkan kepada ahli khusus untuk memperoleh latihan intensif mengembangkan bakat-bakat khusus
Secara garis besar, langkah-langkah yang perlu ditempuh dalam rangka mengatasi kesulitan belajar, dilakukan melalui tahapan-tahapan:
a.       Pengumpulan data
b.      Penggolahan data
c.       Diagnosis
d.      Prognosis
e.       Treatment (perlakuan)
f.       Evaluasi
C.     Bentuk-Bentuk Masalah
Bentuk-bentuk maslah dihadirkan siswa dapat dibagi menjadi dua sifat, regresif dan agresif. Bentuk-bentuk yag bersifat regresif antara lain: suka menyendiri, pemalu, penakut, mengantuk tak mau masual ditandai dengan malas ak sekolah. Sedangkan yang bersifat agresif antara lain berbohong, pembikin onar, memeras temannya beringas, dan prilaku-prilaku lain yang bisa menarik perhatian oranglain.
D.    Mengajar Remedial
Pengajar remedial dapat diberikan kepada siswa yang tidak menguasai pelajaran secara keseluruhan.
E.     Anak Terbelakang Mental
Keterbelakangan mental ditandai degan malas atau kurang perhatian terhadap pelajaran.keterbelakangan mental ini bisa diakibatkan IQ rendah yang menunjukan bahwa seorang anak tidak berusaha keras dalam belajar.
Kategori IQ terbelakaang adalah:
Tingkat IQ
Keterangan
70-90
Rendah
50-70
Terbelakang
20-50
Imbesil (bodoh)
0-20
Moron (dungu)
Penyebab Keterbelakangan Mental
a.       Anoxia (traoma kelahiran)
b.      Penyakit infeksi dari si Ibu
c.       Hereditas, keterunan atau kawin sesama keluarga
d.      Radang otak atau epilaepsi
e.       Ibu hamil kurang giji
Gejala Harus Ditangani Dokter Ahli
Gejala yang merupakan kelainan harus ditangani dokter ahli ialah anak austistik, dyselexia, dan epilepsi (cacat otak)
Anak Autistik
a.       Cepat naik darah karena adanya prlakuan tidak normal terhadap mereka, seperti menghina
b.      Dapat melukai diri sendiri
c.       Pengamatan berlebihan terhadap organ-organ tubuhnya sendiri
d.      Perhatian berlebihan dan terlalu lama terhadap suatu tanpa mempedulikan kegunaannya
e.       Penolakan besar terhadap setiap perubahan lingkungan dan tertarik pada sesuatu bersipat monoton
f.       Melebih-lebihkan atau menganggap enteng suatu reaksi dari kejadian-kejadian yang normal misalnyamenolak untuk melihat atau mendengar sesuatu atau menjadi tidak peka terhadap kesedihan.
g.      Gaga ataau terlambat dalam berbicara atau terpatah-patah
h.      Sikap tabiatnya tidak wajar dan keras hati
i.        Gabungan antara haal-hal ganjil dan hal wajar
Dyselexia (buta huruf)
Dyselexia atau buta huruf adalah keadaan seorang anak dalam hal lain mempunyai kecerdasan normal, namun memiliki ketidak mampuan khususnya menghalangi untuk belajar membaca.
Cacat Otak
Cacat otak ini diakibatkan karana proses kelahiran yang sulit dan kelahiran yang dipaksakan dapat menimbulkan kerusakan otak pada bayi.
F.      Anak Sulit Diajari
Belajar salah satu usaha memberikan bantuan pada orang lain terampil dalam hidup. Penyebab sulit diajari salah satunya keterdesakan oleh keinginan kuat emosinnya yang menggelora, tanpa disertai rasionalitas kemampuan dirinya yang berada dalam lingkungannya.
Salah satu upaya efektif terhadap anak akut sulit yaitu ruangan tersendiri, tempat dan lingkungan yang khusus terprogram.
G.    Anak Yang Sangat Cerdas dan Berbakat
Anak berbakat “Gifted Children” lebih populer dari kata pintar dan mampu. Bakat yang dimiliki seseorang atas karunia pencipta-Nya kepada dirinya dapat dibagi menjadi tiga bagian:
a.       Bakat berhubungan degan keterampilan yag bekerja bersama-sama sebagai suatu kesatuan, misalnya dalam cabang olahraga atau teknik.
b.      Bakat berhubungan dengan dorongan untuk berkresi, melukis, menggambar, dan lai-lain
c.       Bakat yang berhubungan dengan fungsi intelektual, seperti kemampuan berfikir, menalar, melihat satuhubungan dengan hubungan lain, menarik kesimpulan, dan menggolongkan informassi dengan benar.
H.    Anak-Anak Dalinkuen
Bia anak mengalami gangguan belajar banyak dijumpai pada priode sekolah, maka anak dalinkuen banyak terdapat pada masa-masa sesudahnya. Dalinkuensi terjadi pada masa remaja usia sekolah, namun masih terkendali dan dapat dimaafkan, tetapi menjadi melonjak setelah remaja sebagai wujud perkembangan remaja tahap kedua paska sekolah yang berkembangan remaja tahap kedua paska sekolah yang perkembangannya dipengaruhi oleh tanggungjawab pada keluarga, pengangguran, gengsi serta kemiskinan oragtua, dalam situasi tersebut dapat muncul prilaku tak wajar.
I.       Penyiksaan Anak
Penyiksaan identik dengan kekerasan dan penganiyayaan. Dalam lingkungan sekolah sering ditemukan anak tawuran beahur dengan penganiyayaan serta penyiksaan anak oleh temannya. Dalam hal tersebut, penganiyayaan dilakukan pada anak sekolah termasuk kejahatan atau prilaku penyimpangan.
J.       Anak Pancaronba dan Pecandu
Anak Pancaroba yaitu mudahnya terkontaminasi oleh budaya yang mempengaruhinya. Pancaroba ini disebut alienasi yaitu kehilangan atau menghilangan, hal ini mengandung makna suatu tindakan memutuskan hubungan-hubungan lama. Hal ini dapat menyebabkan suatu problema berarti, terutama anak-anak muda dalam priode melepaskan dirinya dari rumah, sehingga terjadi krisis identitas.
BAB VIII
PENILAIAN
Penilaian atau penguuran bertujuan untuk mengetahui ketercapaian proses pendidikan yang dilakukan untuk dikaji dan dianalisis sebagai dasar untuk melakukan tindakan lanjut pelaksanaan pendidikan selanjutnya.
A.    Fungsi Penilaian
Dasar utama melakukan penilaian dalam bidang pendidikan yaitu; atas dasr psikologi, didaktiss dan administratif.
Dasr psiologi yaitu untuk menilai usaha yang telah dilakukan baik usaha yang dilkukan oleh pendidik atau anak didik selama dalam proses pendidikan untuk perbaikan selanjutnya. Didaktis yaitu sejauh mana proses yang dilakukan apakah tepat dengan metode yang digunakan, patutlah dipertahankan atau dihilangkan, sehingga hasil pendidikan lebih mendekati harapan. Dasar administratif yaitu:
a.       Memberikan data untuk menentukan status anak didik didalam kelasnya, naik kelas atau tidak.
b.      Memeberikan ikhtisar mengenai segala hasil usaha yang dilakukan oleh suatu lembaga pendidikan.
c.       Merupakan inti laporan tentang kemajuan siswa-siswa kepada orangtua atau pejabat pemerintah yang berwenang, guru-guru dan juga siswa.
B.     Prinsip Dasar Penilaian
Untuk mewujudkan tes sesuai dengan fungsi yang diharapkan maka terdapat prinsip-prinsip penlaian sebagai berikut:
a.       Mengacu pada kemampuan
b.      Berkelanjutan
c.       Didaktis
d.      Menggali informasi
e.       Melihat benar dan salah
C.     Merencanakan Tes
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam merencanakan tes adalah
a.       Relevansi
b.      Pengambilan sampel yang tepat
c.       Kondisi standar
d.      Kesukaran yang sesuai
e.       Konsistensi
f.       Skor yang penuh arti
D.    Analisis Tugas
Selanjutnya melakukan analisisa tes item individu Tujuan analisa item adalah mengevaluasi kualitas item tes.
E.     Penilaian Hasil Belajar
Acuan penilaian
a.       Setiap kegiatan belajar mengajar mesti dilakukan penilaian. Penilaian itu bisa dalam bemtuk angka atau hurup. Penilaian dalam bentuk angka menggunakan skala 0s.d 100, 0 s.d 10. Diperguruan tinggi biasssnya penilaian menggunakan huruf. A, B, C, D dan E (TL=0)
b.      Nilai angka/huruf umumnya merupakan hasil tes atau ujian yang diberikan guru/lembaga pendidikan dalam jangka waktu tertentu. Nilai-nilai tersebut dimasukan kedalam rapor, ijazah, dan daftar nilai lain.
c.       Nilai yang dimasukan kedalam rapor atau daftar nilai hasil akhir itu, merupakan gabungan dari raw skor yang telah diolah, serta tugas lain dalam bentuk penyusunan makalah, absensi, tes sumatif, tes akhir dll.
d.      Pengolahan nilai menjadi nilai akhir seorang siswa/mahasiswa dapat dilakukan mengacu pada kriteria tertentu yaitu penilaian acuan patokan (creation-referencd evalution) dan penilaian acuan norma (norm-referenced evelution).
F.      Pengaruh Penilain
Ada  tiga faktor berperan dalam menentukan pengaruh nilai, yaitu; pendapat siswa tentang hal-hal menyebabkan diperolehnya nilai, nilai ingin diterima oleh siswa dan nilai yang bisa diterima oleh siswa.

Resume Psikologi Pendidikan
Sumber :
Aja Rowikarim, Psikologi Pendidikan (Bandung; Batic Press, 2013)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar