JUAL BELI
A. Pengertian
Jual Beli
Jual
beli menurut bahasa adalh tukar menukar barang sedangkan menuut istilah jua
beli adalh menukar suatu barang dengan barang yang lain dengan cara tertentu
atau akad.
Sebagian ulama lain memberikan pengertian:
a. Menurut ulama Hanafiyah : “Pertukaran harta
(benda) dengan harta berdasarkan cara khusus (yang dibolehkan)”. (Alauddin
al-Kasani, Bada’i ash-Shana’I fi Tartib asy-Syara’i, juz 5, hal. 133)
b. Menurut Imam Nawawi dalam Al-Majmu’ :
“Pertukaran harta dengan harta untuk kepemilikan”. (Muhammad asy-Syarbini,
Mugni al-Muhtaj, juz 2, hal. 2)
B.
Dasar
Hukum Jual Beli
واحل الله البيع
وحرم الربوا(البقرة: 275)
“Allah telah menghalalkan
jual beli dan mengharamkan riba”(Qs. Al-Baqoroh:275)
البيعان
بالخيار(اخرجه البخارومسلم)
“Jual beli itu dengan Khiyar (bebas memilih)”(HR Bukhori dan
Muslim)
Adapun hukum pelaksanaan jual beli tergantung pada keadaan yaitu:
1.
Mubah
karena asal hukum jual beli adalah mubah
2.
Wajib
karena ada sebab lain contohnya apabila ada kebutuhan pokok manusia tidak dapat
dipenuhi kecuali dengan jalan jual beli amaka hukum jual beli itu wajib.
3.
Sunnah
apabila barang tersebut sangat diperlukan
oleh seseorang atau ada seseorang yang dikasihi dan orang tersebut
memerlukan barang itu.
4.
Haram
yaitu jual beli yang diharamkan
5.
Sah
tapi terlarang
C.
Rukun
Jual Beli
Dalam
menetapkan rukun jual beli diantara para ulama terjadi perbedaan. Menurut Ulama
Hanafiah, rukun jual beli adalah ijab Qabul yang menunjukkan pertukaran barang
secara ridha baik ucapan maupun perbuatan.
Menurut Jumhur Ulama ada empat rukun
jual beli, yaitu:
a.
Pihak penjual (Ba’i)
b.
Pihak pembeli (mustari)
c.
Ijab Qabul (Sighat)
d.
Obyek jual beli (Ma’qus alaih)
D. Syarat Jual
Beli
a.
Orang yang
melaksanakan akad jual beli ( penjual dan pembeli )
Syarat-syarat yang harus dimiliki oleh penjual dan pembeli adalah :
1. Berakal, jual belinya
orang gila atau rusak akalnya dianggap tidak sah.
2. Baligh, jual belinya anak kecil yang belum baligh dihukumi tidak sah. Akan
tetapi, jika anak itu sudah mumayyiz (mampu membedakan baik atau buruk),
dibolehkan melakukan jual beli terhadap barang-barang yang harganya murah
seperti : permen, kue, kerupuk, dll.
3. Berhak menggunakan hartanya. Orang yang tidak berhak menggunakan harta milik orang yang sangat bodoh
(idiot) tidak sah jual belinya. Firman Allah ( Q.S. An-Nisa’(4): 5):
b. Sigat atau Ucapan
Ijab dan Kabul. Ulama fiqh sepakat, bahwa
unsur utama dalam jual beli adalah kerelaan antara penjual dan pembeli. Karena
kerelaan itu berada dalam hati, maka harus diwujudkan melalui ucapan ijab (dari pihak penjual) dan kabul
(dari pihak pembeli).
Adapun syarat-syarat ijab kabul
adalah :
1. Orang yang mengucap ijab
kabul telah akil baliqh.
2. Kabul
harus sesuai dengan ijab.
3. Ijab
dan kabul dilakukan dalam suatu majlis.
c. Barang
Yang Diperjual Belikan
Barang yang diperjual-belikan harus memenuhi syarat-syarat yang diharuskan,
antara lain :
1. Barang yang diperjual-belikan itu halal.
2. Barang itu ada manfaatnya.
3. Barang itu ada ditempat, atau tidak ada tapi ada ditempat
lain.
4. Barang itu merupakan milik si penjual atau dibawah kekuasaanya.
5. Barang itu hendaklah diketahui oleh pihak penjual dan pembeli dengan jelas, baik zatnya, bentuknya dan kadarnya, maupun sifat-sifatnya.
d. Nilai tukar barang yang dijual (pada zaman modern
sampai sekarang ini berupa uang).
Adapun syarat-syarat bagi nilai tukar barang yang dijual itu adalah :
1. Harga jual disepakati
penjual dan pembeli harus jelas jumlahnya.
2. Nilai tukar barang itu
dapat diserahkan pada waktu transaksi jual beli, walaupun secara hukum,
misalnya pembayaran menggunakan kartu kredit.
3. Apabila
jual beli dilakukan secara barter atau Al-muqayadah (nilai tukar barang yang dijual bukan berupa uang tetapi berupa uang).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar