Sabtu, 14 Februari 2015

Barang-barang yang boleh dan tidak diperjual belikan



BARANG-BARANG YANG BOLEH
DAN TIDAK BOLEH DIPERJUAL BELIKAN
1.      Benda Najis
Jual beli Benda najis adalah sah. Demikian menurut ijma para imam madzhab. Adapun Memperjual belikan benda najis dzatnya, seperti anjing, khomar, dan kotoran binatang. Menurut hanafi: sah menjual anjing dan kotoran binatang dan orang muslimboleh mewakilkan kepada orang dzimi untuk memperjual belikannya.
Para ulama maliki berselisih pendapat mengenai bolehnya menjual anjing. Diantara mereka ada yang membolehkannya secara mutlak. Sebagian lagi memekruhkannya, serta adapula yang membolehkannya khususnya anjing yang diperoleh untuk dipelihara. Syafii dan hambali: tidak boleh sama sekali menjual dan membeli barang tersebut (anjing, kotoran dan khomr). Syafii dan hanbali: tidak wajib dibayar harga anjing yang dibunuh.
Minyak yang terkena najis, apakah ia suci dengan dibasuh? Pendapat yang paling kuat dari Syafi’i: minyak yang terkena najis tidak dapat disucikan maka tidak sah dijual. Demikian pula pendapat Maliki dan Hanbali. Hanfi: boleh memperjual belikan minyak yang terkena najis.
2.      Budak
Para Imam madzhab sepakat tentang tidak dibolehkannya menjual ummul walad (budak yang dijadikan ibu anak). Dawud berkata: boleh menjual Ummul Walad. Diriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Tholib dan Ibn Abbas bahwa mereka membolehkannya.
Maliki, Syafi’i, dan Hanbali: menjual budak mudabbar (budak yang dikatakan oleh tuannya bahwa ia merdeka sesudah tuannya meninggal) diperbolehkan. Hanafi: tidak boleh dijual jika keadaan mudabbar itu mutlak (tiada terikat).
Boleh menjual budak yang menjadi perkongsian, baik ia masih kecil maupun dewasa. Demikian menurut pendapat ketiga imam madzhab. Hambali: jika ia masih kecil tidak boleh dijual.
3.      Wakaf
Tidak boleh menjual harta wakaf. Demikian menurut tiga imam madzhab. Hanfi: boleh dijual, selama belum diutuskan hakim, atau wakaf itu diberikan secara wasiat.
Para imam madzhab sepakat bahwa air susu perempuan adalah suci. Dan air susu perempuan boleh dijual, menurut Safi’i dan Hanbali. Menurut Hanafi dan Maliki: tidak boleh air susu perempuan diperjual belikan.
Ulat suter boleh diperjual belikan. Demikian menurut tiga imam madzhab. Hanafi: tidak sah.
Menjual lebah, walaupun masih sarangny asalkan dapat dilihat hukumnya sah. Demikian menurut Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Hanafi berkata: menjual lebah tidak boleh.
Menjual susu yang masih dalam tetek binatang tidak sah. Demikian menurut Hanafi, Syfi’i dan Hanbali. Maliki Berpendapat: sah untuk beberapa hari jika diketahui kadar perasnya. Seseorang menjual kambing karena kambing tersebut bersusu dan hukumnya sah. Hanafi: tidak sah
Menurut tiga imam madzhab: boleh menjual dirham dan dinar yang tidak diketahui beratnya. Sedangkan Maliki: tidak boeh.

Kamis, 05 Februari 2015

Jual Beli



JUAL BELI
A.    Pengertian Jual Beli
Jual beli menurut bahasa adalh tukar menukar barang sedangkan menuut istilah jua beli adalh menukar suatu barang dengan barang yang lain dengan cara tertentu atau akad.
Sebagian ulama lain memberikan pengertian:
a. Menurut ulama Hanafiyah : “Pertukaran harta (benda) dengan harta berdasarkan cara khusus (yang dibolehkan)”. (Alauddin al-Kasani, Bada’i ash-Shana’I fi Tartib asy-Syara’i, juz 5, hal. 133)
b. Menurut Imam Nawawi dalam Al-Majmu’ : “Pertukaran harta dengan harta untuk kepemilikan”. (Muhammad asy-Syarbini, Mugni al-Muhtaj, juz 2, hal. 2)
B.     Dasar Hukum Jual Beli
واحل الله البيع وحرم الربوا(البقرة: 275)
“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”(Qs. Al-Baqoroh:275)
البيعان بالخيار(اخرجه البخارومسلم)
“Jual beli itu dengan Khiyar (bebas memilih)”(HR Bukhori dan Muslim)
Adapun hukum pelaksanaan jual beli tergantung pada keadaan yaitu:
1.      Mubah karena asal hukum jual beli adalah mubah
2.      Wajib karena ada sebab lain contohnya apabila ada kebutuhan pokok manusia tidak dapat dipenuhi kecuali dengan jalan jual beli amaka hukum jual beli itu wajib.
3.      Sunnah apabila barang tersebut sangat diperlukan  oleh seseorang atau ada seseorang yang dikasihi dan orang tersebut memerlukan barang itu.
4.      Haram yaitu  jual beli yang diharamkan
5.      Sah tapi terlarang

C.     Rukun Jual Beli
Dalam menetapkan rukun jual beli diantara para ulama terjadi perbedaan. Menurut Ulama Hanafiah, rukun jual beli adalah ijab Qabul yang menunjukkan pertukaran barang secara ridha baik ucapan maupun perbuatan.


Menurut Jumhur Ulama ada empat rukun jual beli, yaitu:
a.       Pihak penjual (Ba’i)
b.      Pihak pembeli (mustari)
c.       Ijab Qabul (Sighat)
d.      Obyek jual beli (Ma’qus alaih)

D.    Syarat Jual Beli
a.       Orang yang melaksanakan akad jual beli ( penjual dan pembeli )
Syarat-syarat yang harus dimiliki oleh penjual dan pembeli adalah :
1.      Berakal, jual belinya orang gila atau rusak akalnya dianggap tidak sah.
2.      Baligh, jual belinya anak kecil yang belum baligh dihukumi tidak sah. Akan tetapi, jika anak itu sudah mumayyiz (mampu membedakan baik atau buruk), dibolehkan melakukan jual beli terhadap barang-barang yang harganya murah seperti : permen, kue, kerupuk, dll.
3.      Berhak menggunakan hartanya. Orang yang tidak berhak menggunakan harta milik orang yang sangat bodoh (idiot) tidak sah jual belinya. Firman Allah ( Q.S. An-Nisa’(4): 5):
b.      Sigat atau Ucapan
Ijab dan Kabul. Ulama fiqh sepakat, bahwa unsur utama dalam jual beli adalah kerelaan antara penjual dan pembeli. Karena kerelaan itu berada dalam hati, maka harus diwujudkan melalui ucapan ijab (dari pihak penjual) dan kabul (dari pihak pembeli).
Adapun syarat-syarat ijab kabul adalah :
1.      Orang yang mengucap ijab kabul telah akil baliqh.
2.      Kabul harus sesuai dengan ijab.
3.      Ijab dan kabul dilakukan dalam suatu majlis.
c.       Barang Yang Diperjual Belikan
Barang yang diperjual-belikan harus memenuhi syarat-syarat yang diharuskan, antara lain :
1.       Barang yang diperjual-belikan itu halal.
2.     Barang itu ada manfaatnya.
3.       Barang itu ada ditempat, atau tidak ada tapi ada ditempat lain.
4.       Barang itu merupakan milik si penjual atau dibawah kekuasaanya.
5.       Barang itu hendaklah diketahui oleh pihak penjual dan pembeli dengan jelas, baik zatnya, bentuknya dan kadarnya, maupun sifat-sifatnya.

d.      Nilai tukar barang yang dijual (pada zaman modern sampai sekarang ini berupa uang).
Adapun syarat-syarat bagi nilai tukar barang yang dijual itu adalah :
1.      Harga jual disepakati penjual dan pembeli harus jelas jumlahnya.
2.      Nilai tukar barang itu dapat diserahkan pada waktu transaksi jual beli, walaupun secara hukum, misalnya pembayaran menggunakan kartu kredit.
3.      Apabila jual beli dilakukan secara barter atau Al-muqayadah (nilai tukar barang yang dijual bukan berupa uang tetapi berupa uang).